Kapten Ri dan Dr Def : the fog lane


Aku terbangun saat Dr Def menjingkrak senang melihat tanda selamat datang dipagi buta itu, dini hari kelabu aku tak dapat mengenali lagi tempat ini. Kelabu bukannya gelap yang menyapa pukul 3:20 ini. Kami mengendarai salah satu bus AKAP (antar kota antar propinsi) kemarin siang dan tiba pagi ini. Aku diminta oleh Profesor Enguin untuk memeriksa kadar pencemaran dan penyebab kabut asap dikota kelahiranku ini.
“yeah, aku kembali Reminder”
Kota kelahiran yang banyak mengingatkanku akan peristiwa bersejarah bagaimana orang dulu berjuang untuk merdeka, sampai sekarang seudah tiga generasi berlalu. Aku heran dengan kebiasaan buruk kami disini yang masih saja seperti ini setiap tahunnya. Kunjunganku yang terakhir adalah 3 tahun lalu, saat itu aku meninggalkan kota ini dalam proses penyembuhan dari sakit. Aku dan Dr Def menumpang taksi menuju perumahan rakyat, kami akan istirahat sebentar sebelum melanjutkan perjalanan kami menuju lokasi penghasil asap. Kota ini selalu membuatku rindu, sungainya yang besar membelah kota menjadi dua besar, sebuah jembatan besi gagah menyatukan mereka. Jembatan yang merupakan sebuah bentuk pertanggung jawaban mereka yang pernah menyerang kota ini telah menjadi Icon dan kebanggaan kami semua yang tinggal dibawahnya. Aku masih ingat saat kecil ayahku mengajakku mendekati bangunan raksasa berwarna kuning itu, aku tertegun heran bagaimana manusia bisa membuatnya. Setelah dewasa aku tak kagum sama sekali, masih ada yang Maha hebat, yang menciptakan para pencipta bangunan megah itu berkali lipat lebih hebat.
Kami melewati jembatan itu, Bridge of Reminder namanya. Jembatan pengingat, suasana tenang dini hari menyergapku menyentuh relung hati terdalam mengingatkan akan kejadian yang aku alami dulu. Kota ini pernah berjaya, pernah mengharum diseluruh negeri, menjadi pusat ilmu pengetahuan dan budaya. Kini aku kembali untuk alasan pikiran dangkal para serakah yang mengirimkan monster hanya untuk membuka hutan. Aku sedih sehingga membuatku ingin sekali kembali, mengembalikan kejayaan yang hilang itu. Kami langsung beristirahat begitu tiba disebuah mess kecil tempat perwakilan Silent hill (bukit diam). Dr Def mulai melakukan sampling terhadap kadar asap disekitar mess kami kemudian menganalisanya, asap yang ada disini hampir sama seperti yang terjadi di kota Mati (Death City). Kemungkinan disebabkan oleh monster Api (fire) tipe 3 atau 4 karena kadarnya sudah sangt tinggi diudara.
Pagi itu juga kami mendatangi pusat asap, disana terdapat sebuah lahan gambut kering yang menjadi favorit bagi monster api. Ribuan petugas pemadam dan pasukan khusus sudah berusaha memadamkan api namun tak pernah selesai, setiap kali berhasil dipadamkan maka akan muncul kembali titik api baru seolah menghindar dari para petugas. Aku mengetahui apa yang menjadi masalah mereka.
“kita akan membuat kanal kecil mengelilingi titik api yang luas ini kemudian menggunakan alat pendeteksi panas kita akan mencari induk api. Dengan mematikan induk api maka tidak akan muncul kembali titik api baru”

setelah bekerja hampir 2 jam akhirnya kami berhasil mengendalikan api. bukan tanpa kesulitan pertarungan kami kali ini diikuti dengan evolusi dan inovasi monster api (fire) kami sedikit kesulitan karena sang indung dapat memecah diri dan bergabung dengan anakannya. aku tak dapat bekerja sendiri, semua kemampuan pasukan taktis aku gunakan. ketika berada dipusat panas, segera aku mengambil sisa sampel api dan aku berikan pada Dr Def.

“serangan the fire semakin ganas tahun ini”
“iya benar, kita tidak bisa membiarkannya begitu saja. kita harus mencari cara mencegahnya menguasai pikiran penduduk bumi agar tak terulang lagi dongeng itu”

aku dan Dr Def kembali ke base kami di jekarda. setelah melakukan sosialisasi dan penyuluhan pencegahan kabut asap. kami serahkan tugas selanjutnya kepada semua pihak terkait yang sudah ditugaskan untuk melakukan penanggulangan bencana.

aku hanya singgah sebentar disiniz negeri asapku. kota hangat yang menyimpan semua kenangan hidupku. butuh kesadaran tinggi dan jangka waktu yang lama untuk mengubah pola pikir demi kemajuan peradaban, semua itu karena urusan perut. ketamakan manusia, kalau sudah begini sulit untuk mencegahnya. karena itu sudah menjadi sifat dasar manusia. aku meninggalkan City of Reminder dengan harapan suatu saat penduduk dan pemangku kebijakan dapat berpikir demi kehidupan nyata orang banyak.

untuk cerita lainnya silahkan kunjungi blog baru saya
www.kaptenri.com
terima kasih