awas jangan bengong


Sore itu aku sedang duduk santai disebuah warung dipinggir jalan sambil menikmati makanan yang disajikan berupa jajanan khas kota Palembang yaitu pempek, model dan tekwan. Diseberang jalan sana aku melihat seorang Ibu sedang menuntun anaknya yang terlihat sangat senang dan pecicilan. Sambil memegang erat tangan mungil itu sang ibu menuntunnya untuk menyeberang jalan.
“Awas nak banyak Honda”
Ibu itu mengingatkan anaknya agar berhati hati ketika ingin menyeberang jalan yang membuatku tersenyum geli mendengar istilah Istilah ibu itu untuk menyebut kendaraan roda dua yang lalu lalang didepannya. budaya campuran antara Melayu dan Jawa sangat kental disini.  Satu hal yang membuat aku selalu terkekeh adalah sebutan penduduk asli kota ini untuk sepeda motor adalah Honda. Entah mengapa yang jelas kata mereka dulu kendaraan bermotor itu merknya adalah Honda sehingga mereka jadi terbiasa. Aku jadi teringat bagaimana Ibuku juga sering mengingatkanku agar berhati hati ketika menyeberang jalan atau bermain dijalan ketika masih kecil dulu dikampungku dipedalaman hutan Sumatera jauh dari kota. Kendaraan bermotor yang melintas dalam sehari tak lebih dari 5 buah sangat jarang sekali, itulah mengapa kami sangat senang bermain dijalan. Sekarang semua sudah sangat berbeda, setiap detik kendaraan itu lewat tak memberi kesempatan sedikitpun bagi pejalan kaki untuk menyeberang.
Sekarang aku berada disalah satu kota terbesar di Pulau Sumatera, kota yang sangat padat dengan arus lalu lintasnya tak heran kalau hampir setiap hari terjadi kecelakaan dikarenakan banyaknya kendaraan yang melintas dan kebandelan pengendaranya. Entah sudah berapa sering aku menyaksikan didepan mataku sendiri bagaimana kecelakaan terjadi, mulai dari serempetan kecil yang diakhiri dengan adu mulut atau kebiasaan anak anak tanggung yang biasa disebut cabe – cabean dan terong – terongan berjalan santai disore hari dengan sedikit ugal – ugalan membuat pengendara lain gusar, tak jarang mereka terkena tegur keras oleh bapak – bapak atau ibu – ibu pengendara lain yang merasa terancam dengan kehadiran mereka. Mereka tidak hanya membahayakan orang lain yang berkendara disampingnya namun juga mengancam diri mereka sendiri dengan berboncengan tiga tanpa menggunakan Helm. Berboncengan tiga saja sudah sangat salah, kendaraan itu dirancang untuk berdua. Tak pernah aku melihat Jok sepeda motor dibuat dengan tiga lengkungan sebagai tanda bahwa Jok itu dipergunakan untuk tiga orang. Mengendarai sepeda motor tanpa Helm juga sangat salah, Helm dirancang untuk melindungi kepala dari benturan saat terjadi kecelakaan. Tentunya para pengembang dan ahli keselamatan sangat mengetahui mengapa Helm diciptakan, bukan untuk mengganggu pengendara atau membuat jadi tidak nyaman melainkan sebagai perlindungan minimal saat terjadi kecelakaan. Semua orang tentu saja tidak ingin mengalami kecelakaan, untuk itu kita harus waspada dan fokus saat berkendara. Mulai dari persiapan kendaraan bagaimana keadaan mesin, apakah rem berfungsi baik rem depan maupun belakang karena setiap rem tidak bisa saling menggantikan salah satunya tidak berfungsi maka resiko kecelakaan akan semakin tinggi. Rem depan untuk mengurangi laju kendaraan secara cepat, sekitar 60% kendaraan akan berhanti ketika rem depan ditekan namun untuk mempercepat proses pengereman rem belakang sangat penting guna mengurangi selip ban depan. Bagi kendaraan sport atau motor besar memang dilengkapi dengan teknologi ABS (Antilock Break System) teknologi ini memungkinkan roda depan atau belakang tidak langsung berhenti secara mendadak pada saat pengereman dilakukan sehingga para pengendara tidak akan terjungkal. Kemudian lampu sign (tanda) dan lampu rem yang menjadi tanda untuk pengendara lain bahwa kita ingin berbelok atau berhenti.
Selain kesiapan kendaraan, kesiapan pengendara dan pengetahuannya juga menjadi sangat penting. Kesiapan adalah apakah pengendara dalam keadaan prima untuk melakukan perjalanan, semua anggota tubuh harus sehat karena akan digunakan untuk menggerakkan setiap tuas penting saat berkendara. Kemudian bathin pengendara apakah mampu untuk menjalankan motornya, ketidaksiapan ini dapat membahayakan orang lain dan mengancam diri sendiri untuk itu siapkan mental sebelum turun kejalan. Dan yang paling saya benci adalah tentang pengetahuan pengendara dijalan, hal ini akan menyangkut pelanggaran lalu lintas lalu keegoisan dan keserakahan pengendara dijalan. Pengendara yang baik akan mengetahui apa yang sebaiknya dilakukan dan tidak dilakukan saat berkendara demi keselamatan bersama. Aku paling benci melihat pengendara yang membunyikan klakson saat sedang macet parah (stuck) entah apa maksudnya yang jelas dengan mengklakson kendaraan secara terus menerus tidak akan membuat lalu lintas menjadi lancar, kebodohan ini malah akan membuat hati semakin panas dan emosi itulah pentingnya mengatur mental sebelum turun kejalan agar tidak mengganggu pengendara lain. Kalau memang buru buru kenapa tidak ditinggalkan saja kendaraannya kemudian berlari atau naik helikopter, bukankah tindakan nyata akan menghasilkan sesuatu dari pada sejuta cacian.
Pelanggaran yang sering membuat macet dan mengakibatkan kecelakaan adalah memutar ditempat yang tidak seharusnya, banyak sekali pengendara yang melakukan kegiatan ini dengan alasan tempat mutar jauh. Bukankah para pembuat marka jalan (Dishub dan Polri) sudah melakukan serangkaian tes dan penelitian mengapa marka jalan dibuat begitu, bukan ingin merugikan satu pihak dan menguntungkan pihak lain namun demi alasan keselamatan. Rambu dilarang memutar karena laju kendaraan dari arah berlawanan kencang karena jalan lurus. Ketika kita melanggar maka akan terjadi kemacetan dari arah kita datang dan arah berlawanan karena semua kendaraan mengurangi laju kendaraannya untuk membiarkan kita lewat. Tidak semua pengendara mengurangi kendaraan karena mereka berpikit juga kita yang salah, kalau sudah begini kecelakaan akan terjadi. Kemudian saat dilampu merah, bagaimana orang yang berada dibelakang pengendara paling depan akan membunyikan klakson panjang tujuannya agar pengendara didepan maju. Aku paling jengkel kalau sudah diklakson seperti ini. Maka sebagian pengendara didepan akan memajukan kendaraannya secara perlahan hingga ketengah simpang membuat mereka yang punya jatah semakin ngebut agar tak kena maling, nah kalau ada yang tertabrak saat berada ditengah itu lantas tak ada satu pun yang peduli dari pengendara tak sabaran yang mengklakson secar membabi buta tadi, mereka saling menyalahkan.
Aku juga seorang pengendara motor, meskipun tak selalu taat aku mencoba untuk tidak melanggar dengan selalu menggunakan Helm demi keselamatan  meskipun hanya keluar gang untuk membeli sesuatu di mini market depan gang. Kejengkelanku dengan suara klakson dari orang dungu tak tahu ajaran itu sering kali membuatku berdebat atau mengundang kemarahan dari pengendara lain. Pernah suatu pagi aku dalam perjalanan pulang sehabis membeli sarapan, jarak sekitar 20 meter aku menyalakan lampu Sign sebelah kanan karena gang rumahku berada disana, aku mengurangi laju kendaraan secara bertahap agar pengendara dibelakang tahu bahwa aku ingin berbelok, tiba – tiba seorang pejantan tangguh mengklaksonku tepat disamping sebelah kananku seakan ingin memotong kendaraanku, padahal dari arah berlawanan banyak kendaraan mendekat padat, tak aku beri ruang kemudian aku menoleh sambil mengarahkan motorku masuk dalam gang. Sebelum masuk aku melihat pengendara tadi yang tak sabaran itu sambil aku lontarkan kata – kata nasihat dengan keras
“DAK LIAT APO WONG LA NGIDUP SEN”
*tidak lihat apa kalau saya sudah menyalakan lampu sign”
Bahasa palembang kental yang kasar dan keras itu membuat pengendara itu menoleh lalu berhenti dijalan didepannya, aku juga berhenti dimulut gang. Jarak kami 20 meter sambil aku buka kaca helm aku tatapi terus hingga akhirnya dia pergi karena merasa salah. Pelajaran yang aku dapat dari kejadian ini adalah para pelanggar lalu lintas yang membahayakan diri sendiri dan mengancam keselamatan orang lain ini masih memiliki rasa malu dan bersalah ketika mereka hampir mengalami kecelakaan. Sekali lagi, HAMPIR MENGALAMI KECELAKAN. Ketika hanya ugal ugalan kemudian ditegur mereka malah semakin menjadi seperti perilaku cabe – cabean dan terong – terongan itu. Dan bahkan mengelak ketika hanya dinasehati,
“ah Cuma depan sini kok”
Siapa yang tahu kamu keluar gerbang tiba tiba ada gerobak sayur tak terkendali terus nabrak secara tak sengaja yang menyebabkan kulit robek kepala lecet.

Oleh Rian R Tandra