Cinta kata orang


sekilas aku mengenali wajahnya yang sudah bertahun lamanya tak jumpa. aku dalam keadaan tak siap ketika dia berjalan menghampiriku dibangku taman itu. hanya mengenakan baju kemeja merk Cardinal bermotif kotak kotak kecil berwarna biru yang sudah 3 kali ini aku pakai dalam seminggu dan sebuah smartphone ditangan. aku kikuk, kaku, tak kenal tapi begitu dekat. jarak kami hanya sedepa, selangkah kaki, sejauh tatapan tajam matanya yang seakan tak percaya bertemu denganku disini. tatapan aneh itu kembali menghakimiku,
“mengapa kau disini?”
“mengapa kau menemukanku?”
“apa kau mengikuti ku?”
“apa belum puas luka itu?”
dengan sekuat tenaga aku mengarahkan mata sayuku seteduh dan selembut mungkin kearahnya, tanpa bisa berdiri hanya sekedar untuk menghentikan langkahnya.
“hai Def”
teriakku cukup keras dan membuat orang disekitar berhenti sejenak untuk melihat kearah kami.
“hai Ri, apa kabar”
“baik, ngapain kesini”
“mau belanja, kamu ngapain?”
“inilah tempatku ngapain lagi aku disini”
“yaudah aku duluan ya”
“iya”
tak ada keberanian, bahkan untuk sekedar melempar senyum rindu. kau berlalu begitu saja, tak mungkin dua kali aku melihat bintang jatuhku dimalam yang sama.
“kamu tidak mungkin faham cinta cintaan”
kata katamu masih terngiang menggerayangi keningku, kembali keras dan menggelegar dihatiku bagaimana kita terakhir bertemu dulu saat kau mulai mengejar mimpimu tanpa pernah bercerita padaku.
“aku memang tidak ingin memahaminya karena aku tidak percaya cinta. palsu!!!”

lalu mengapa kita bertemu lagi? ketika awan itu telah berlalu, ketika langit memanggil biru, ketika cawan ini telah kering semuanya. aku tak pernah mengenyahkanmu, aku tak pernah menghindarimu aku tak pernah pergi menjauh, seperti kataku, aku ada disini disekitarmu. namun kabut itu menghalangi pandanganku, kabut itu membawamu berlalu jauh tak mungkin aku kejar lagi. hingga akhirnya kau tersesat dan kembali menangisi kepalsuan hidup ini.
“kenapa menghilang?”
harusnya aku yang bertanya itu, aku tak bisa menghubungimu, tak satupun burung mengetahui keberadaanmu, hanya kabar angin berhembus sewaktu waktu melepas rindu bahwa kau masih bernafas dengan sisa waktumu.

tak ada yang benar benar mencari, tak ada yang benar benar bertemu. sudah bertahun tahun pula aku mencarimu disetiap sudut kotaku disetiap sisi jalanmu tak pernah kutemui tandamu. hanya sebuah titik kecil diujung kalimat itu, aku harus melanjutkan hidupku dan kau adalah masa laluku.

apakah itu untukku, atau untukmu sendiri yang belum puas menjejalkan Kaki kepelosok negeri mencari kesenangan dan kedamaian hati.

cinta itu kata orang memabukkan, aku belum merasakannya namun sudah mabuk, apakah ini cinta?
cinta itu kata orang membutakan, aku belum merasakannya namun sudah buta, apakah ini cinta?

terserah apa kata orang, aku tak lagi mendengarkan. sudah bertahun lamanya aku memikirkan, apa aku masih salah. aku terima resikonya, aku terima kemalangan itu biarlah aku mabuk dan buta disana, toh aku akan bersamamu. mencoba menghalangi kisah terjadi, mencoba menghalangi penyesalan dikemudian hari.

Oleh Rian R Tandra