pria penyuka beng beng


pria itu masih duduk disitu, disebuah bangku taman kota yang rindang. menatap nanar kearah kolam yang tenang itu. dua jam lebih dia masih asyik duduk sendiri disana sambil sesekali membuka smartphone-nya, tersenyum sendiri kemudian hening begitu terus sampai Ia membuka tasnya mencari sesuatu yang nampaknya sangat Ia rindukan. sepotong beng beng lumer dari dalam tas Ia keluarkan, cukup lama sampai akhirnya benda itu masuk kemulutnya.

kau tahu beng beng kawan? sepotong cokelat tak murni yang memiliki aroma dan rasa nikmat bercampur antara wafer yang renyah caramel yang lembut dan cokelat yang manis.
begitulah hidup yang telah kau lalui dan terima ini coba renungkan sekali saja bagaimana isinya, bagaimana rasanya. menarik bukan, disana ada renyahnya persahabatan, lembutnya kasih keluarga, manisnya kisah cinta disekolah.

banyak cara orang menikmatinya, aku lebih suka beng beng lumer. karena tak payah lagi lidahku mencampur rasanya, aku hanya perlu menikmati setiap jengkal perasaannya yang membuatku senang.

begitu pula hidup, banyak cara menikmatinya. aku lebih suka mempelajari apa yang sudah aku pelajari dan mencari tahu apa yang belum aku ketahui. dengan begitu aku dapat selalu bersyukur betapa sedikit sekali yang ku ketahui, betapa kecilnya aku dalam hidup ini. sebuah rasa yang tak pernah dirasakan orang dalam sepotong beng beng, itulah aku.

pria penyuka beng beng itu berlalu pergi, meninggalkan sebuah rindu yang akan membawanya kembali. sebuah rindu yang selalu menjadi tujuannya dalam menjelajahi rasa disudut bibir ini. sebuah tempat dimana ada seorang yang mendoa’akan dan menantikan kepulangannya disenja hari.

image

Oleh Rian R Tandra