tak harus sempurna


aku bisa saja menjadi seperti apa yang kau inginkan, tak kulakukan. karena aku tak ingin kau mencintai orang lain dalam diriku. bukan aku.

aku memilihmu, dan aku merasa tak ada yang salah dengan itu. kalaupun orang lain memandang bahwa kau tak sepantasnya bersanding denganku tak akan aku indahkan sedikitpun, yang tahu aku itu aku dan yang tahu kamu itu kamu. bukankah kita dilahirkan dengan semua kekurangannya, tak perlu jadi sempurna untuk bisa menjalani hidup ini karena kita diciptakan memang dalam keadaan lemah tak berdaya.

kalau akhirnya kau bertanya, mengapa kita diciptakan dalam keadaan berbeda. maka aku akan menjawab, alangkah membosankannya bertemu dengan orang sepertiku setiap hari, disana sini. kita diciptakan berbeda untuk saling melengkapi. bukan untuk menjadi sempurna, tapi untuk selalu bersyukur bahwa kita diciptakan berpasangan dengan segala perbedaan.

“apakah kau yakin dalam mencintaiku ?”

“aku yakin, atau dirimu yang tak yakin padaku”

“sungguh, kalau aku tak yakin tak mungkin aku ada disini hanya untuk memainkan hatimu”

“aku percaya”

“aku takut dirimu akan tersakiti, dengan cemoohan mereka. aku merasa tak pantas mendampingimu dan inilah yang membuatku merasa malu untuk menyatakan rasa ini padamu”

“kau tak perlu mendengar kata mereka, aku ingin kamu yang apa adanya. terserah apa kata mereka tentangmu, kita bisa saling melengkapi dan itu cukup untukku”

“tapi aku ingin membuatmu bangga punya kekasih aku”

“astaga, aku ini tak ingin kamu jadi apa apa atau jadi siapa siapa. aku suka kamu yang apa adanya, senyaman dirimu padamu. senyaman diriku padamu. aku bangga punya kamu, coba sekarang aku balik. apakah kamu bangga punya aku ?”

“justru itu, dirimu itu terlalu sempurna untukku. aku merasa tak pantas bersanding dengamu”

“jadi dirimu terpaksa menjadi kekasihku ?”

“tidak, bukan itu maksudku. aku mencintaimu, dan itu bukan karena apa apa. semata karena agamamu, oleh karena itu izinkan aku untuk memantaskan diri”

“itu tak perlu, Tuhan menciptakan kita berpasangan untuk saling melengkapi agar kita bersyukur. tetaplah disini, biar kita saling melengkapi. izinkan aku belajar melengkapimu, dan bantulah aku dengan melengkapimu”

“sungguh, aku merasa tak sanggup mendengar semua ini. dirimu begitu sempurnanya untukku, bimbinglah aku melengkapi diriku. maklumi aku yang belum mengenal agamamu sama sekali”

“Insya Allah, aku akan selalu berada disini membimbingmu sebagai Imammu. aku tidak akan memaksakan, semampumu saja. kita belajar dasarnya dulu, kalau masalah hijab itu nanti setelah dirimu benar benar tahu apa tujuannya”

“itulah yang aku takutkan, aku ini belum memakai hijab dan karena itulah aku merasa dari penampilanpun aku sudah tak pantas bersanding denganmu. terima kasih atas pengertiannya”

“hhm jadi hanya karena masalah itu. aku ini memang filosofis, tapi aku juga mengerti dengan itu. kau tak harus sempurna, karena untuk jadi sempurna kau harus disempurnakan, dan penyempurnaan itu dengan saling melengkapi”

“hhm beruntungnya aku bertemu denganmu”

dan aku memang sudah memintamu untuk mendampingiku, sebagai orang yang bisa mengisi ruang kosong dalam hati. kalaupun nanti ini akan salah, aku beruntung telah dipertemukan dengan orang yang bisa membuatku selalu bersyukur dan menyadari bahwa setiap kekurangan itu akan selalu berdampingan dengan kelebihan.

kalau boleh aku mengatakan bahwa sebenarnya yang beruntung itu adalah aku, bertemu dengan orang sepertimu membuat aku mengerti tentang hidup ini. tentang arti mengapa kita diciptakan berbeda – beda, dan semua perbedaan itu memang sengaja diciptakan agar kita bisa saling melengkapi satu sama lain.

 

seminggu sudah berlalu sejak percakapan kami tentang mengapa aku dan dia sebenarnya bisa saling melengkapi kalau masalahnya hanya tentang dia yang merasa tak pantas denganku. dan bagaimana kalau aku yang merasa tak pantas berdampingan dengannya, dia tak hiraukan itu. dia terlalu meninggikanku, terlalu mengagungkanku, terlalu memuliakanku. aku tak ingin hubungan yang terlalu rumit, aku hanya ingin menjadi imamnya yang bisa menjadi panutannya, bukan orang yang dia takuti tapi orang yang dia hormati bukan sebagai orang lain tapi sebagai kekasih.

Hei El, aku pun mencintaimu. dan aku ingin kau menjadi sahabatku yang bersedia mendampingiku terus dalam suka dan duka, senang dan sedih, sekarang dan nanti, gelap dan terang, didunia dan diakhirat. aku pun akan selalu berada disini, disampingmu. menemanimu dalam setiap langkahmu.

aku tak peduli apa kata orang tentang dirimu, memang kita tak sempurna dan memang bukan kesempurnaan yang aku cari dalam dirimu. berilah aku kesempatan untuk melengkapimu, bukan menyempurnakanmu.

aku berterima kasih padamu, dan aku yakin tak ada kesalahan dalam dirimu. aku senang kau mau menerima agamaku ini dengan terbuka, aku harap pemikiran kita bisa sama tentang hidup ini tentang tujuan kita hidup didunia ini, tentang kita.

agamaku memang membenarkan adanya cinta pada lawan jenis, dan dengan ke-kompleks-an itu kita dapat dengan perlahan saling menasehati untuk saling melengkapi.

aku akan selalu berdo’a semoga kita selalu bersama dalam keadaan sebaik – baiknya, dan kelak dipertemukan dalam keadaan sebaik – baiknya pula.

“hei El, met istirahat yaa. mimpi indah “pesaing bidadariku”. jangan begadang terus”.

eger