sobat


Sobat, hari ini aku kembali datang. entahlah, biasanya aku tak serajin ini datang untuk menemuimu. sebenarnya kalau bisa aku jujur aku akan mengatakan bahwa yang ingin aku temui itu bukan dirimu, tapi seseorang yang duduk disebelahmu, yang sedang memegang tanganmu erat itu. kalau saja bukan karena sebuah buku yang dipinjam olehmu tempo hari mungkin aku tak akan mengenalnya sejauh ini. buku berjudul “negeri 5 menara” karangan A. Fuadi itu telah sukses mengantarkan dan memuluskan pertemuan kami. dia ingin melakukan riset tentang buku ini, hanya sekedar resensi dan sedikit sudut pandang yang sebenarnya dia pun bisa melakukannya. tapi karena waktu yang sudah mepet dan tugas itu merupakan tiket beasiswanya ke paris yang tinggal hitungan hari tenggatnya dan akulah pemegang tiket itu.

“hei Di, udah lama ?”

“hem dak kok, baru juga sampe”

“jadi udah siap hari ini buat finishing”

“Insya Allah selesai”

yaa, rencananya aku hari ini akan membantunya menyelesaikan tugas itu. tinggal sedikit lagi, inti dari sesuatu yang menjadi pandangan kami tentang buku dan cerita didalamnya.

“oke, kalau begitu aku tinggalkan kalian berdua”

“mau kemana han”

“handika mau nemenin Ibunya belanja, tapi nunggu kamu datang baru pergi katanya”

“oh, hati hati”

“oke”

akhirnya waktu yang benar benar sampai dan menunjukkan keajaibannya. kami memiliki waktu berdua untuk yang kesekian kalinya, mungkin yang akan berbeda kali ini aku akan menyampaikan sesuatu yang seharusnya tak boleh aku sampaikan. aku ambil sebuah kursi untuk duduk didepannya, bukan disampingnya. aku tatap lekat wajahnya, aneh. dia lalu menatapku balik dan mata kami beradu kuat.

“kenapa ?”

“tidak”

kembali aku menatapinya, aku tak tahu lagi sudah yang keberapa kali aku menginterogasi hatiku tentang keputusan kami ini. ada rasa yang kuat menahanku saat ini, tapi setiap kali aku menatap matanya. hati ini menjadi sangat buta dengan kekuatan yang mendorongku dengan kuatnya dan menghancurkan segala yang menghadang. kalau saja ini hanya tentang rasa pasti aku akan dengan sangat mudah meluncurkan kalimat itu. ini akan menjadi sangat berat untuk dikatakan karena diujung sana telah menanti seorang teman yang mungkin sudah menjadi sahabat, diakhir cerita ini akan ada segelintir pernyataan dan perkataan tentang kekejianku. akan ada pengasingan dan penyisihan terhadapku kelak.

apa yang salah dengan rasa ini. bukankah semua boleh mencinta siapa saja dan dicinta oleh siapa saja. yang berbeda dalam kisah ini aku hanya mencintai seseorang pada waktu yang tak tepat bukan pada orang yang salah.

“Disa, ada yang ingin aku kasih ke kamu”

“hah, apa ?”

“ini”

aku memberikan sebuah kotak musik, dia tersenyum sambil membukanya.

“Dis, aku mau bilang kalau sejak aku duduk dikursi itu dekat kamu, melihat tawamu, aku sudah tahu kalau aku jatuh hati padamu. mungkin ini salah, mungkin ini benar benar salah. tapi izinkanlah untuk kali ini aku jadi orang paling jujur dan serius dihadapanmu karena aku memang serius. tak ada yang salah dengan cinta, ini akan terlalu indah kalau tak kubagi denganmu, ini akan terlalu menyakitkan kalau tak aku berikan padamu. seandainya aku bisa memilih maka bukan kamu yang aku pilih untuk meletakkan cintaku, kalau saja aku bisa meninggalkan rasa ini maka tak akan aku sampaikan pada siapapun, kamu orang yang telah menyentuh hatiku hanya dengan tawamu tanpa katamu tanpa sesuatu yang ingin kau tunjukkan padaku. aku mencintaimu dengan segenap hatiku, mungkin akan terlalu klise, tapi inilah kejujuran yang mengerikan itu”

Dia cuma bisa menatapku lekat, air matanya sudah penuh dan aku yakin mata itu tak sanggup lagi untuk menampungnya.

“aku mau kamu menyimpan itu, semoga kita bertemu disana, dikota impian itu bersama”

aku kemudian menyerahkan secarik kertas berisi pemikiranku tentang riset yang sedang dia lakukan.

“semoga ini membantu, maaf kalau akhirnya terlalu mengerikan Smile

aku mulai beranjak pergi, dengan diiringi instrumen love story dari music box dia menangis. dan

“Di, bisa tetap disini. sebentar saja”

“kalau tak mengganggu”

“ada yang ingin saya sampaikan”

aku kembali duduk, menatapnya lekat. mata itu sudah memerah dan sedikit sembab, kapan dia menangis.

“Di, kalau apa yang kamu katakan itu benar dan ikhlas. maka sebenarnya jalan hidupku sangatlah indah. dan kebenaran itu adalah aku jatuh hati pada Agamamu, dan orang yang mengantarnya adalah kamu. tak pernah seumur hidupku ada orang yang begitu teguh pada agamanya. riset ini juga tentang agamamu, aku baru mengenal agamaku sejak mengenal kamu. semoga dalam agama kita ada penyelesaian tentang masalah kita berdua ini”

aku terdiam mendengar apa yang dia katakan, dan sekarang aku ingin sekali menangis sambil mendekapnya. tak kulakukan, agamaku melarang.

“kau tahu, agama kita sangat kompleks dan semua pertanyaan tentang masalah dalam hidup ini ada jawabnya disana. biarkan ini berjalan apa adanya, dan kita berdo’a semoga kita dipertemukan dalam keadaan sebaik – baiknya dan dipersatukan dalam keadaan sesuci – sucinya”

kali ini aku benar – benar pergi meninggalkannya. dia masih menangis saat terakhir kali aku menoleh kearahnya.

dua bulan kemudian Handi datang sambil membawa buku, didalamnya berisi semua curhatan hati Disa. Handi sudah mengerti yang terjadi, dan dia merelakannya.

“buku itu aku dapat dari adik Disa, sebelum berangkat ke paris kami sempat berselisih dan setelah membaca buku ini aku mengaku salah dan kalah. Di, jaga dia baik – baik”

“maaf Han, kalau semua ini menyakitkanmu”

“tenang Di, semua benar. aku yakin Disa itu orang baik sepertimu dan aku ikhlas”

tiba – tiba hujan turun dan aku semakin kuat merangkul sahabatku itu.

Crying faceLaughing out loudSick smileEmbarrassed smile

gfhf

Advertisements