Hei bray !


Kau tahu teman, Manusia bisa hidup tanpa makan selama 5 hari, dan tanpa minum selama 3 hari. tapi manusia hanya bisa bertahan hidup selama 1 detik jika tidak memiliki harapan.

Tidak ada yang kebetulan didunia ini, aku percaya itu.

Tuhan menciptakan alam semesta, bumi beserta isinya dengan sedemikian detailnya. sampai sampai setiap ilmuwan yang memiliki pengetahuan yang melebihi kebanyakan manusia akan bosan dalam meneliti penciptaan ini, kemudian Ia akan mengatakan “ada sebuah kekuatan yang maha dahsyat yang telah menciptakan dan merangkai alam semesta ini sedemikian rupa sehingga perhitungannya sangat akurat dan tidak ada cacat sedikitpun”.

Aku akan bercerita tentang seorang wanita. yah, setiap cerita pasti akan selalu ada wanita dan dimana ada wanita akan selalu ada cinta.

Cinta Teman ! aku tak mengerti apa itu cinta, sampai sekarang. aku hanya menikmatinya saja dan berusaha untuk tidak terjatuh terlalu dalam kepadanya.

aku mulai mengenalnya kelas VII, yah aku juga bingung karena kelas VII itu biasanya disebut kelas I SMP, sistem ini baru diterapkan beberapa tahun, jadi belum terbiasa.

kembali ke dia, aku tak tahu harus bicara apa dan harus mulai darimana untuk  bercerita tentangnya. yang jelas dia tidak sempurna, tapi aku berani bicara satu kata untuknya, “indah”. perkenalan pertama kami, karena kami satu kelas, maka sudah jelas bagaimana dan dimana kami berkenalan untuk pertama kali, yaitu pas baru masuk sekolah pertama kali. dia duduk didepanku, tepatnya disamping seorang teman wanita juga. Risa, begitu dia memperkenalkan namanya kepada kami. teman sebangkuku nando, sedangkan teman sebangku Risa adalah Vena. aku dan Vena adalah teman dari SD, kami teman yang cukup baik.

“Rif, seberapa deket sih kamu sama Vena ?”

“Vena ?, hhm cukup dekat, sangat dekat malah”

“iya Ris kami ini ibaratnya vokalis dan mic nya Open-mouthed smile. kemana ada Arif, aku harus ada. tapi dimana ada aku Arif dak pernah ada”

“yei, kamu kan ngumpul bareng teman cewekmu, mana tahan aku mendengar kalian ngerumpi”

“yah kami sudah bersama bahkan sebelum sekolah”

“tapi sekarang kita sudah SMP Ven, kayaknya aku harus lebih sering ngumpul sama teman cowok dan kamu sama teman cewekmu”

“oke Rif, aku juga setuju Open-mouthed smile

“kalian ini lagi ngomongin apa coba ? kan kita baru masuk dan tak mungkin kita langsung lebih dewasa dari anak SD”

“benar juga Rif, aku be masih bawa kelereng sekarang”

hahaha Open-mouthed smile

dasar Nando, itu namanya SD sejati.

“Ndo, mulai sekarang kita mainnya sepak bola, volly atau apalah. kan kita juga sudah diajarkan untuk permainan itu waktu SD dulu.


yang paling aku suka darinya adalah cara dia bicara, serta matanya yang sangat cerah. hhm andai mata semua wanita seperti itu, alangkah membosankannya hidup ini. karena hanya dia yang memiliki mata seperti itu, aku tidak akan pernah bosan menatapnya.

yang paling tidak aku ketahui adalah warna rambutnya, dia mengenakan hijab. wanita pertama yang aku kenal menggunakan hijab, subhanallah. aku seorang muslim, jelas aku sangat kagum padanya. hijab yang Ia kenakan bukan hanya sebagai hiasan atau penutup kepala biasa, aku berani membuktikan kalo dia menutupi dan menjaga kehormatannya sebagai seorang muslimah sejati.

suaranya, bisa dikatakan berbeda. aneh, menurutku terlalu melengking jika dibandingkan dengan suara wanita yang lain Open-mouthed smile. mungkin kalo ini memang ceritaku, aku akan membuatnya lebih sempurna tapi ini sedikit kenyataan yang mungkin akan sama dengan cerita yang sebenarnya. saat kami saling bertatapan, yang paling tak kuat menahan dan mempertahankan tatapan itu adalah aku. entahlah, selama aku hidup aku selalu memenangkan ketahanan saling menatap seperti ini, mataku terlalu tajam dan juga akan terlalu indah jika ditatap. hari ini aku kalah lagi, hanya bisa terdiam saat dia menatapku balik dan kemudian aku harus mengalihkan pandanganku dan berpura pura agar dia tak tahu kalo aku tadi terpaku.

“Rif, kamu suka baca komik ?”

dia mengejutkanku siang ini, pertama masuk sekolah memang masih jauh dari kata belajar. yaah beberapa hari ini kita cuma ngobrol saling mengenal satu sama lain.

“hhm lumayan, kalo mau minjemin boleh Open-mouthed smile

“aku yang mau minjem, komik apa ?”

“conan mungkin, tapi bukan maniak. aku cuma punya beberapa Smile

“boleh minjem, sebenernya aku pembaca novel. tapi lagi butuh yang baru, novel aku lagi habis”

“boleh, besok aku bawain”

“Insya Allah Rif Smile

“iya, Insya Allah”

“kamu suka baca novel ?”

“hem, idak”

“kenapa ?”

“entahlah”

“pasti ada alasannya”

“aku belum pernah baca novel Open-mouthed smile, kayaknya juga dak bakalan suka. bingung, telalu tebel dan dak ada gambarnya”

“astaga Rif, cobalah sekali. nanti ketagihan”

“boleh kalo kamu mau minjemi Smile

“oke Insya Allah nanti aku bawain”

hei, aku kira kita tak akan bisa terus menyembunyikan rasa seperti ini. yaah aku hanya bisa tersenyum, mungkin cuma ini cara ku mengungkapkannya.

aku yakin ini bukan kebetulan, aku duduk disini, dia duduk disana. kalaupun ada yang mengatakan ini kebetulan, maka aku akan mengatakan bahwa ini adalah kebetulan yang direncanakan.

“rif, kamu asli mana ?”

“aku ?”

“iya kamu”

“hhm sebernernya aku lahir disini, tapi orang tuaku bukan asli dari sini. mereka dari Indralaya, kamu tau ?”

“oh, aku tau. memang setahu aku jarang ada orang yang asli sini. bahkan aku sendiri bukan asli sini, kami dari jawa”

“hhm orang jawa yaa Smile

“aku kira kamu juga orang jawa”
”kenapa ?", karena kulit aku agak hitam Open-mouthed smile. aku kira kamu orang palembang”

“kenapa ?, karena kulit aku tidak hitam. yaah, cara bicara kamu yang agak beda”

“oh, kalo itu sering latihan Open-mouthed smile

yaah, seperti itulah hari demi hari aku lalui. yang agak aneh, aku jarang sekali mengobrol dengannya, kami cuma ngobrol pas masuk kelas. setiap jam istirahat atau pulang sekolah, aku pasti bareng teman temanku, sedangkan dia selalu dengan teman ceweknya. kapan aku bisa bicara dan lebih mengenalnya.

“hei bro, kenapa tak sekolah hari ini ?”

hah, ada sms. sepertinya aku tahu nomor ini, kalo tidak salah nomor ini pernah sms aku tempo hari. kayaknya teman kelas, aku balas.

“maaf, aku lagi sakit”

sms terkirim. . .

yaa, hari ini aku tidak sekolah. entahlah, aku sedikit tak enak badan. mungkin karena kehujanan kemarin, cuma demam tapi aku tak sanggup bergerak. badan ini remuk rasanya, mungkin besok sudah bisa sekolah lagi.

pagi itu, aku merasa sudah bisa kembali sekolah. kata teman sebangku kemarin ada PR dan dikumpul hari ini, sepertinya aku harus berangkat pagi. hhm ternyata aku berangkat kesiangan, tapi jam  baru menunjukkan pukul 6:30. berat !, sudah dipastikan teman teman mau kerjasama alias contekan untuk mengerjakan PR ini.

“Ndo, banyak yaa ?”

tanyaku menyelidik.

“Rif, PR nya dak jadi dikumpul. kita sekarang lagi diskusi untuk buat mading. sebentar lagi kan 17 –an”

“jadi ?”

“PRnya kan yang ngasih kemarin pak Budi, tapi tiba tiba kemarin sore anak OSIS ngasih pengumuman kalo lusa mading tiap – tiap kelas harus sudah ditempel. jadi semalam pak saipul sms ke Badri kalo PRnya ndak jadi”

“yaa, aku kemarin dapat info dari teman teman OSIS kalo perlombaan akan dimulai minggu ini. dan ini merupakan tugas kepengurusan yang baru untuk dapat pengalaman”

“jadi ?”

“koordinatornya ?”

“Risa, kami sudah setuju”

“oke, hari ini masih belajar seperti biasa ?”

“kemungkinan banyak yang bolong”

“bahannya sudah dibeli ?”

“sudah lengkap sebenarnya, tinggal isinya”

“mungkin aku bisa bantu puisi ?”

“nah, katanya lomba puisi juga ada. oke, nanti aku bilang sama Badri”

“aku lihat dulu yaa, kalo ada”

“kalo dak ada buat yaa Rif”

“Insya Allah”

“haha Open-mouthed smile

“kenapa ?”

“dak apa apa”

aku terlalu pusing, mungkin masih kurang fit. kelas ini pun seperti kapal pecah, teman cowok tak ada yang membantu buat, mereka malah mainan pesawat terbang. entahlah, sepertinya aku harus pergi. ke sekret mungkin.

“Rif, kamu sekolah ?”

Rini, teman dari kelas VIIa, yang juga anak OSIS menyambutku dengan pertanyaan ini.

“iya, kan ini hari rabu tanggal hitam lagi Open-mouthed smile

“bukan, maksud aku kamu kemarin katanya sakit”

“oh. . .iya, kemarin aku sakit, maaf yaa tak ikut rapat terakhir”

“oke dak apa apa kok, sudah tahu tugasmu ?”

“aduh, sms kamu kayaknya dak aku terima”

“aku memang belum sms kamu”

“berarti bukan aku yang salah”

“yaah oke oke, kamu sama dengan aku. kita jadi TIM tampal sulam”

“astaga”

“kenapa ?”

“aku bingung”

“hhm pokoknya bantuin aku”

“Insya Allah”

organisasi pertama yang aku ikuti, mungkin aku akan dapat banyak pelajaran disini.

“Rif, kamu kelas VIIb kan ?”

Kak Bara, ketua OSIS yang menaungi kami. aku yakin dia orang yang rela mengorbankan raportnya berisi warna merah demi seni manajerial ini.

“iya kak, kenapa ?”

“tolong panggilkan Risa, bilang kalo kak Bara mau bicara”

aduh, ada apa ini ?, kenapa aku jadi tidak ikhlas begini. kalo ini dalam sebuah film pasti aku sudah pura pura sakit perut.

“oke kak”

apa daya ku ?

aku berlari seperti mesin yang hanya diberi mata dan kaki. hem, apa boleh buat. aku cuma berteman dengannya.

“Ar, kamu ditunggu kak Bara di sekret”

semua terdiam dan memperhatikan aku, mungkin aku melihatnya. aku keluar lagi dari kelas itu, pergi ke Musholla. mungkin ini satu satunya caraku untuk menenangkan diri. sampai pulang, Nando sudah menungguku didepan kelas. sepertinya dia sudah kesal menunggu.

“kalo masih belum fit jangan maksa”

“aku sudah fit kok”

“lain kali Smile

pelajaran berharga, “rindu itu boleh, tapi realistis”.

aku pulang. tak perlu aku beri tahu apa yang terjadi, aku cuma sedikit mengebut. pikiranku kacau. sesampainya dirumah, aku tidur. aku baru bangun sorenya, sehabis maghrib aku ngaji. berharap semuanya tenang lagi.

esoknya disekolah, aku telah siap dengan tugasku sebagai panitia tampal sulam.

sudah pasti tugasku akan sangat banyak, menutupi setiap kekurangan yang mereka lakukan. kami adalah petugas yang bekerja dibelakang layar.

“Rif, coba dicek. apakah semua kelas sudah menempelkan madingnya, kalo belum tolong diberi dead line sampe jam 9:00”

“iyo”

aku siap dengan tugas pertama ini, Rini menemaniku. setelah aku cek, kayaknya tinggal kelas VIIb yang belum menempelkannya. aku kesana.

“Bar, kenapa ! belum selesai ?”

“tinggal finishing Rif, tapi Risa belum datang”

“astaga, sudah jam berapa ini. deadlinenya jam 9:00”

“Rif, tolong bantu”

“aku usahain”

yaah, KKN mulai tumbuh sejak kita mengenal yang namanya organisasi. mau bagaimana lagi, terkadang tekanan yang diberikan dan tujuannya memang untuk kebaikan.

“itu Risa”

Rini yang berdiri disampingku mengejutkan kami.

“syukurlah”

“oke, cepat yaa. TIM jurinya dari guru, tidak mungkin kita mengulur waktunya”

pengumumannya akan disampaikan pada tanggal 17 agustus. kami berhasil melaju ke final, mawakili kelas VII.

siang itu, kelas tambah rame. guru tak masuk pun, disana sini pada ngobrol tak jelas. aku pusing, akhirnya aku duduk dibelakang. tidur Open-mouthed smile.

“woi, tidur terus”

Deni, sudah ada didekatku.

“masih demam ?”

“ah kamu Den, idaklah. cuma lesu”

“hei, kemarin ada yang kirim sms ke kamu ?”

“ya iyalah”

“maksud aku sms yang ini”

Deni menunjukkan sms terkirim di HP yang dipegangnya.

“oh iya, pas aku dak sekolah kemarin. jadi kamu yang sms ?”

“eis, lemak be. memang pake HP aku, tapi bukan aku yang sms”

“jadi ?”

“Risa, katanya cuma mau pinjem HP. tapi dia lupa ngapus pesan terkirimnya”

aku sontak melihat kearah Risa yang lagi berkumpul bersama teman teman cewek yang lain. dan dia juga melihat kearahku sambil, sepertinya dia tahu apa yang sedang kami bicarakan disini.

“ah, iya apa. kenapa dia pake HP mu?”

“masak aku bohong Rif, buat apa ?. mana aku tahu, mungkin dia tak punya HP atau dia tak punya nomor HP mu”

“oke oke aku percaya”

“jadi ?”

“kenapa ?, aku bingung”

“bingung kenapa ?”

“dengan tingkahnya”

“Rif, 98,99% dia suka padamu, mungkin kalau kamu bisa stabil dan lebih baik didepan dia statusnya akan naik lagi”

“hem, kamu ini. rasanya terlalu jauh”

“jangan mikir jauh jauh makanya, mikir yang simpel be. ada cewek yang suka sama kamu, tanyakan juga apakah kamu menyukainya atau tidak”

“nanti aku tanyakan”

“nah ini baru aku setuju. ya sudah, aku ke kantin dulu. nitip minum ?”

“boleh”

astaga, aku semakin bingung. mungkin aku harus memikirkan dulu, apa yang aku inginkan dan apa yang aku butuhkan. hari itu kami tidak belajar sama sekali, aku senang. tapi aku juga bosan. karena apa yang aku pikirkan ini. aku terus memandangi gadis itu, dia tampak begitu berbeda dan entahlah. saat dia tertawa, sepertinya hanya tawanya yang bisa aku dengar. aku pergi, menuju keluar kelas. aku tak memandangnya tapi sepertinya dia memandanngiku sekarang karena tak ada lagi tawa disana. sekarang aku semakin terlihat bodoh Open-mouthed smile.

“hei Rif, pulang yuk !”

“memang sudah boleh pulang apa ?”

“guru lagi rapat, lagi pula ini sudah jam 12”

“oke, aku ambil tas dulu”

Deni, si bedebah tadi berhasil membujukku. sebenarnya aku memang mau pulang, dari pada disini aku pusing.

aku mampir ke kost Deni, tak pulang dulu. aku rasa aku mau tidur siang dulu disana. sesampainya disana,aku malah tak bisa tidur, dia mencercaku dengan pertanyaan yang bodoh.

“Rif, menurut kamu cewek kelas kita ada yang cantik dak ?”

“astaga kawan”

aku hanya tertawa mendengar pertanyaannya. aku lanjut saja tidur.

“yei, kok malah tidur Rif. baiklah, kecuali Risa tentunya Smile

“apaan sih Den, aku mau istirahat dulu. ntar aku kasih tahu pas aku bangun”

“oke, janji yaa”

“sip”

aku tidur sampai jam 4 an, sebelum pulang aku bilang sama Deni kalo putri itu cewek yang cantik.

“aku setuju sama kamu Rif, menurut kamu dia suka dak sama aku ?”

“menurutmu ?”

“suka Open-mouthed smile

“ya sudah, aku pulang dulu”

“hati hati yaa Rif”

“Insya Allah Smile
sesampainya dirumah, aku langsung membuka komputerku. sepertinya disini ada draft puisi gumamku dalam hati. benar saja, lumayan banyak tapi yang temanya pas dengan 17 an kayaknya dak ada. sedang asyik membaca puisi lamaku, tiba tiba handphoneku berbunyi. nada panggilan telpon berbunyi disana, tapi hanya sebentar. cuma missed call.

aku hampiri HP ku yang aku letakkan diatas kasur, ketika aku lihat. Arrisa galliani. ada apa ?, sepertinya cuma salah pencet. aku lanjut lagi memeriksa puisiku. malam itu aku agak bingung dengan tingkah Risa yang sepertinya dia juga menyembunyikan sesuatu.

yaa, hubungan kami tetap baik. malah semakin lama semakin baik, ini membuat semua mata cowok sepertinya terus memandangku. entahlah, aku seperti buruan yang siap mereka terkam. dia suka mendengarkan dan menyanyikan lagu, aku juga suka. dan lagu yang paling Ia suka adalah lagu glen fredly, januari.

“kasihku sampai disini, kisah kita jangan tangisi keadaannya. mungkin karena kita berbeda, dengarkan dengarkan lagu, lagu ini melodi rintihan hati ini. kisah kita berakhir dijanuari”

“kamu tahu lagu itu Rif ?”

“sedikit, kamu suka ?”

“yaa, aku suka. tahu dari mana ?”

“itu, dilacimu tertulis liriknya”

“oh,ternyata kamu seorang detektif yaa”

“bukan, aku cuma seorang agen rahasia Open-mouthed smile

“hahaha Open-mouthed smile, departemen apa ?”

“agen pembawa kebahagiaan, deparment of happines”

“astaga, boleh aku ikut gabung ?”
”boleh, tapi tes masuknya sulit”

“aku siap Open-mouthed smile

“baiklah, aku akan jadi tutornya”

siang itu aku sangat bahagia, tawa itu memenuhi duniaku. entahlah, tawa yang indah. dia pembawa kebahagiaanku.

aku yang berdiri disini

aku yang tak tahu apa yang terjadi

semua terasa damai dihati

aku tak ingat lagi apa yang terjadi

tentang negara yang terjajah ini

semua telah kami rebut kembali

apa kami sudah merdeka ?

apa kami boleh berleha leha ?

tidak, ini belum selesai

aku masih harus berdiri

membangun negeri ini

dan aku tak ingin sendiri

aku butuh kau disisi

merebut kejayaan yang telah lama pergi.

meskipun tak menang, aku berhasil melakukannya. bagiku itu cukup, dan teman teman cukup bangga dengan ku.

“selamat yaa Rif Smile

“aku kan dak menang”

“yaa, tapi kamu sudah memenangkan aku”

“hah ?”

“eh, maksud aku kamu sudah menang karena berani maju”

“oh, makasih yaa Smile

“aku pergi dulu”

astaga, apa kataku. dia sepertinya memang suka. what can I do ?. terlalu banyak yang suka padanya, aku pun belum yakin. akhirnya semua berlalu begitu saja, satu semester berlalu. hubungan kami masih baik, mungkin cuma aku yang tahu.

17 februari, aku lahir pada tanggal itu. tak pernah ada yang begitu istimewa sampai hari ini, pada jam istirahat aku pergi ke perpustakaan kemudian kekantin. seperti biasa, setelah itu ngumpul bareng teman teman yang telah menantiku dipojok sekolah. ngobrol kesana sini, sampai jam istirahat usai. pada saat masuk kekelas, aku terkejut ada sebuah bingkisan dalam laci mejaku.

“apa ini ?”

tanyaku pada Nando yang baru datang,

“mana aku tahu, aku be baru datang”

aku bertanya pada dua cewek yang duduk dibelakang, Shella dan Nina. tapi mereka juga tak tahu, atau pura pura tidak tahu, kerena mereka berdua tertawa. akhirnya Veni, teman sebangku Risa mengaku.

“Rif, itu dari aku sama Risa. dari Risa sih sebenarnya, tapi dia malu mengatakannya”

aku terdiam sejenak.

“benar Ar ini dari kamu ?”

“ya iyalah Rif, dari siapa lagi ?”

“aih Ven. pelan pelan”

“tuh kan Rif”

“kenapa musti malu ?”

“iya, kenapa musti malu, ya Rif ya”

“iya itu dari aku, diterima yaa”

“buka sekarang Rif”

“jangan, bukanya di rumah be”

“oke nanti aku buka di rumah. makasih yaa”

dia menjawab dengan sebuah anggukan dan seulas senyuman Smile.

yaa Risa memberiku sebuah bingkisan. aku tak tahu harus apa, malu senang atau apa.

“cie cie, buka dikit dak apa apa kan Ris”

nando membuyarkan lamunanku,

“aku jadi penasaran, apa kamu ndak penasaran Rif”

“sebenarnya penasaran, tapi dak boleh sama yang punya”

“hei, boleh kok,

itu sekarang kan punya kamu”

“yei”

semua berteriak, cuma aku yang tetap diam. dan akhirnya aku meminta izin.

“aku buka yaa Ar”

“boleh”

ketika aku buka, ternyata isinya buku catatan dan seperangkat alat tulis. astaga, aku terkejut, mereka tertawa.

“makasih ya Ar Smile

“diterima yaa Rif”

“iya Rif, jangan dilihat dari bentuk dan harganya. tapi niat dan orang yang memberinya Open-mouthed smile

“ini kan sudah aku terima, ini kado pertama yang pernah aku terima sepanjang hidupku. makasih banyak ya Ar”

“kok cuma Risa sih yang di ucapin makasih, aku juga kan bantu bungkus kadonya

“iya, makasih juga Vena”

“astaga Ven, waya waya bungkus be”

“yei, dari pada kau. awak kawan sebangku Smile with tongue out

aku dan Risa hanya tersenyum melihat mereka. dan akhirnya kami semua tertawa. aku juga masih tak percaya kalo aku mendapat hadiah, ini hadiah pertamaku dan tak akan pernah terlupakan.

aku bingung, dari mana dia tahu tanggal lahir aku. sedang aku tak tahu tanggal lahirnya, bodohnya aku. meskipun aku tahu, aku tak mungkin berani memberinya hadiah. apa kata teman teman cowok dan bagaimana tanggapan Risa, aku bingung. terlalu banyak pikiran, terlalu banyak resiko.

yah, aku tak bisa memungkiri bagaimana aku berharap dan terus berharap. semua tetap berjalan dan terus bejalan seperti biasa. meski terlalu panas ditelinga bagaimana mereka juga mulai menyukai Risa, dan bagaimana sikap Risa terhadap mereka, aku masih tidak bisa memberi tanggapan yang berarti.

sampai kami berpisah, kami naik kekelas VIII. aku masuk kelas VIIIa, Risa kelas VIIIc. meskipun kami beda kelas, hubungan kami masih sangat baik, kami masih sering bertemu dikegiatan yang melibatkan perlombaan sekolah, kami tergabung dalam TIM tanggap lomba. selain itu, kami masih saling bertanya pelajaran. yaah mungkin bertanya tentang rumus atau sekedar meminjam buku.

meskipun hubungan kami masih baik, aku tak memungkiri bahwa ada jarak tipis yang tak bisa aku tembus. keyakinanku padanya semakin pudar dan aku semakin tak tahu apakah dia masih seperti yang dulu ataukah dia sudah punya kekasih baru.

“Rif, menurutmu Risa itu gimana orangnya ?”

suatu hari nando bertanya padaku saat dia main ke kostku. aku agak terkejut, karena kami tidak pernah bicara seserius ini.

“kenapa ?”

“kamu kan lumayan dekat sama dia dulu pas kelas satu Smile

“hhm orangnya baik, menyenangkan dan. . .aku tak tahu lagi”

“menurut kamu dia suka ndak sama aku ?”

“aduh, kok nanya sama aku. mana aku tahu, kemungkinannya masih fifty fifty”

“mungkin aku harus usaha dulu”

yaah, temanku itu ternyata juga menyimpan rasa pada Risa. aku tak mungkin melarangnya, Risa memang gadis yang menarik dan dia juga belum ada yang memiliki. kali ini apakah aku harus bertindak ?, entahlah. keberanianku semakin luntur, sekarang Nando sudah mendeklarasikan. sedangkan aku, mendeklarasikan saja belum. astaga.

setelah deklarasi yang dilakukan oleh Nando, nyaliku semakin ciut. hubungan dengan Nando agak berkurang, dan Risa semakin jauh. apa aku yang menjauh, atau kami memang harus menjauh. bodohnya aku.

Entahlah, aku tak begitu mengenal sifat Nando. setahu aku dia orangnya baik, dan setahu aku juga dia tahu bahwa aku juga suka pada Risa. apa yang dapat aku lakukan haruskah aku datang padanya dan meminta dia mundur sebagai pria. aku terdiam melihat keseriusannya untuk mendapatkan hati Risa, sedangkan aku. memandangnya pun aku tak berani lagi. antara teman dan kekasih, mana yang akan kamu pilih ?. aku tidak memilih, itulah pilihanku.

teman, pada akhirnya nanti aku akan menyesali tindakanku ini. nanti kalian akan tahu.

dan sudah bisa ditebak, mereka berdua sangat dekat. entahlah, setahu aku dia orangnya  memang seperti itu. dia mudah sekali dekat sama orang, banyak teman pria yang dekat dengannya dan banyak juga yang suka padanya meskipun dia hanya menganggap mereka teman. tapi kali ini aku tak dapat menganggapnya sebagai hal yang biasa, sepertinya aku belum ikhlas dan tidak akan pernah ikhlas Open-mouthed smile.

jika kalian pernah mengalaminya, mungkin kalian akan tahu seperti apa rasanya. membayangkannya saja cukup rumit, seharusnya aku melakukan sesuatu, setidaknya jangan menjauhi Risa.

“Rif, km pnya bku mtk ?”

sms dari Risa malam itu membuat aku teringat untuk mengerjakan PR matematika yang belum aku kerjakan. sebenarnya aku malas untuk mengerjakan PR itu, buku itu letaknya dimanapun aku tak tahu, karena aku ingin melupakannya, tapi karena Risa menanyakannya, aku matimatian mencarinya. ketemu Smile, yee Hot smile.

“iya, ada Smile. yg sm dg pnya pk Budi kan ?, ad ap ?”

sms terkirim. . .5 menit

“iya, bku yg itu, bsk aku mau pinjem. jm 10 bs ?, kata kalian punya PR. aku mau nyalin soal maksudnya, ssh dk pnya bku. blh ya Smile

“oh, oke”. aku juga lg ngerjain PR itu, bsok jm istraht aku ksh kkmu Smile
”hhm, mksih yaa Rif sblum.a, nanti biar aku ksna. skalian aku mau nmuin Vena”

“oke masama Smile

sms itu seperti sebuah semangat baru untukku. yah, beberapa waktu ini aku jadi semakin malas. aku kebut mengerjakan PR itu, karena besok adalah hari yang besar. jam 11 malam selesai, kayaknya ini PR terbaik yang pernah aku buat Open-mouthed smile.

pagi sekitar jam 6 aku sudah mandi dan sarapan, hari ini aku sarapan teman. tak seperti biasanya. jam 7 aku sudah siap dalam kelas, padahal pelajaran pagi itu matematika, aku juga bingung. biasanya aku malas berangkat pas pelajaran itu. sekitar jam 10 pas lonceng tanda istirahat berbunyi Risa datang, tapi dia tak sendiri.

“Rif, ada bukunya ?”

“ada Ar, aku ambil dulu.

aku mengambil sebuah buku dalam tas, buku matematika berwarna coklat itu aku berikan kepada gadis yang menunggu didepanku.

“Rif, kamu dak kekantin ato keparkiran ?”

“ini bentar lagi, nunggu Risa dulu”

Nando sepertinya heran karena kami masih dekat meski terlihat jauh.

“makasih ya Rif”

“sama sama”

“maaf merepotkan”

“dak apa apa kok”

dia membalasnya dengan senyuman singkat.

“hei kalian ngumpul disini ?”

“Vena, kamu bawa Novel yang aku minta kemarin ?”

“bawa, bentar ya aku ambilkan”

sepertinya semakin tidak mendukung untukku disini.

“aku pergi dulu yaa”

“oh, ya sudah silahkan Rif”

Nando langsung mengusirku secara halus.

“mau kemana Rif ?”

“mau ke parkiran, teman teman sudah nunggu”

“oh, yaa sudah. aku pinjam dulu ya bukunya”

“oke, maaf yaa Ar”

“dak apa kok”

aku pergi meninggalkan mereka disana, sebenarnya aku tak ingin pergi. tapi teman temanku yang lain pasti sudah menungguku, selain itu didekat Risa juga ada Nando yang sepertinya butuh lebih banyak ruang untuk dekat dengan Risa. aku mengerti teman. aku tak mungkin menyalahkan Nando, dia terlalu polos untuk menyadari dan terlalu sombong untuk menghormati.

diparkiran teman temanku sudah menunggu lama, sepertinya mereka mulai bosan.

“darimana Rif ?”

“iya, ditunggu dari tadi kok baru muncul. bentar lagi masuk kita”

“yaa, maaf. aku dari kelas, ado gawe dikit”

“Risa kan ?”

“iya, aku tadi lihat Risa kekelas”

“oh itu, dia cuma minjem buku”

“jadi beli makan ?”

“yoo, sudah lumayan ngantuk Open-mouthed smile

“Arif Smile

“baiklah, tapi yang beli kalian yah. aku lagi lesu”

“siap boss”

kami terbiasa seperti ini, mungkin beli kue atau gorengan kadang juga kemplang. uangnya kami kumpulkan, sedang yang tidak menyumbang harus bersedia membeli. terlalu aneh memang, tongkrongan diparkiran, makan gorengan belinya mborong, dan kalo kami sudah makan, mulut ini juga tak berhenti bicara. bodoh ? sedikit, karena ini kami anggap sebagai hiburan semata. kalau ada yang tersinggung yaa maaf.

Arif Nugraha Setiawan. siapa yang tak mengenalku disekolah ini, walau hanya kenal namanya saja. aku juga bingung, semua orang mengenal aku sebagai cowok yang berprestasi setidaknya dalam kelas. selain akademik, aku juga aktif dalam berorganisasi dan selalu diundang dalam setiap rapat osis maupun ekskul lain disekolah ini meskipun aku jarang memberi saran dalam rapat tapi semua yang akan dilakukan akan mengikuti nasehat yang aku berikan. pernah suatu ketika ada pengumuman bahwa juara kelas akan mewakili sekolah dalam lomba cerdas cermat. semua dikumpulkan dilapangan, kemudian satu persatu nama dipanggil. aku sudah tidak asing dengan nama nama itu karena merupakan teman sekaligus tandem aku disekolah. dan ketika namaku di panggil

“dan yang selanjutnya Arif Setiawan”

pak Budi tersenyum. dan aku juga bingung karena adik kelas semua pada berbisik bisik dan tidak sedikit yang berkata

“oooo”

sepertinya mereka hanya kenal nama tapi tidak banyak yang tahu wajahku, dan bisa ditebak hanya adik kelas yang aktif diorganisasi saja yang cukup tahu denganku. dan ketika adik kelas sudah selesai dengan “oo” nya, teman teman ku yang cowok membalas dengan

“wooiiii oioioioi”

sedangkan teman teman yang perempuan hanya tertawa.

pak Budi yang tadi hanya tersenyum sekarang sudah tertawa, tanda bahwa beliau tak marah dengan tingkah polah anak kelas VII yang belum tahu sanksi apabila pak Budi marah.

“inilah salah satu kakak kelas kalian yang patut dicontoh dan dibanggakan, sudah pada tahu kan sekarang orangnya. kalo mau mencari dia jangan diperpustakaan, tapi diparkiran. karena dia juga merangkap sebagai penjaga parkir”

“hahahaaaaaaahahahahahaha”

celotehan pak Budi membuat semua yang ada dilapangan tertawa dan muka ku memerah, aku tertunduk malu.

“tapi penjaga parkir yang keren pak”

“yaa, penjaga parkir VIP”

“hahahaha”

semua kembali tertawa. siang itu aku dan Risa digabungkan menjadi satu kelompok berdua, seharusnya ada tiga tapi Indra hari ini tidak hadir karena sakit. kami akan menjadi TIM IPA, padahal aku cinta IPS ketimbang IPA tapi memang tak dapat dipungkiri nilai IPA ku lebih baik dibandingkan dengan teman yang lain. IPA mencakup Biologi dan Fisika. kami dibimbing oleh Ibu Wati dan pak Hadi. aku lebih tertarik dengan Fisika meskipun aku tak pernah mengerti pelajaran ini. secara sederhana aku mencintai tapi tak bisa memiliki, yaa mungkin seperti itulah. sedangkan biologi aku kurang terlalu suka karena lebih mendekati pada penghafalan bahasa latin atau inggris, bagiku kurang menarik.

selama tiga hari kami akan digembleng habis habisan, kabar baiknya aku diperbolehkan tak ikut pelajaran sekolah. siang itu setelah pengumuman dan pengarahan sedikit dari ketua koordinator lomba, pak Budi. aku dan Risa pergi keperpustakaan, entah apa yang kami cari. tapi bu Desi yang menjaga perpus tersenyum senyum, mungkin karena beliau mengenalku atau mungkin karena ini pertama kalinya beliau melihatku bersama Risa.

“cari apa kalian ?”

“RPUL bu”

“Rif, RPAL”

“Oh iya, RPAL bu”

“ini, bukunya ibu simpan disini. ibu tahu kalian akan butuh ini, jadi ibu selamatkan tadi”

“aduh pantesan ibu tadi senyum senyum terus”

“kok diselamatkan bu, memangnya kenapa ?”
”tadi ada anak kelas VII yang mau meminjam, karena ibu merasa kalian lebih butuh yaa tidak ibu pinjamkan”

“ini pertama kalinya ibu melihat kalian berdua kesini bersama sama”

aku sendiri bingung, perasaan aku lumayan sering kesini. dan biasanya bertemu dengan Risa dibagian Sastra, aku juga bingung. percakapan kami cuma sebatas disana, saling menanyakan mau cari buku apa. kemudian duduk berjauhan.

aku selalu kalah cepat, Risa pasti datang duluan bersama Vena. tapi disana juga banyak teman cowok yang lainnya, menurutku dari kalangan borjuis. aku juga sedikit heran, mereka keperpustakaan hanya untuk menemui Risa, kalau aku mungkin cuma cari peta, puisi, buku sulap dan entahlah biasanya aku kena marah karena ramai atau paling sering kena denda cukup banyak karena lama mengembalikan buku.

“ini bukunya”

bu desi menyadarkanku.

“oh iya, kami bawa dulu ya bu”

“silahkan”

aku dan Risa menuju sebuah meja kosong yang memang cukup banyak karena sekarang lagi jam belajar, mungkin sebagian kelas IX yang kosong karena ditinggal gurunya.

“Rif, ini pertama kalinya aku ikut lomba kayak ini. aku sedikit canggung”

“serius ?”

aku seakan tak percaya dengan pengakuan Risa.

“serius Rif, masak aku bohong”

“tenang, aku kan ada disini”

Risa tersenyum. aku salting.

“maksud aku, aku pernah ikut lomba waktu SD dulu. aku kalah ditingkat Rayon Open-mouthed smile

“iya, aku ngerti kok Smile

“yang paling penting nanti kita bisa tenang dan tidak buru buru”

kami belajar sampai kira kira jam 12an, Risa mengajakku sholat kemudian makan. sebenarnya aku aku yang ngajak dia istirahat karena aku mulai mengantuk Open-mouthed smile.

“Istirahat dulu Ar, dak pening apo palak”

“ai, masak belajar be la pening. pantesan kau keperpus cuma liat peta be”

“iyo Ar, la hampir sejam kito belajar”

“oke, kito sholat sudah itu makan siang dulu”

“oke Smile

kami berdua sholat dimushola sekolah, mushola ini jarang digunakan. biasanya cuma guru. karena kami pulang jam 1, pikir kami sholat dirumah bisa. ini pertama kalinya aku menjadi Imam, aku harap dia mau menjadi makmumku selamanya Open-mouthed smile. selesai sholat, aku dan Risa makan dikantin yang dikelola oleh bu Desi. sebenarnya bisa dikatakan perpustakaan yang menyediakan makan, hanya saja tempat makannya ada diluar gedung perpus. aku meminjam buku RPAL tadi kepada bu Desi untuk kami pelajari sambil makan. dikantin ini hanya menyediakan bakso model dan makanan kecil lainnya, aku dan Risa makan model. sambil makan kami sedikit mengasah kemampuan, sebenarnya aku yang menguji Risa.

“kemampuan bunglon mengubah warna untuk menyamar disebut apa coba ?”

“hhm untuk pertahanan diri itu kan ? kalo dak salah mimikri”

“yee, 10 poin untuk tim biru”

“Rif, dimakan dulu punya kamu itu”

“iya, mudah kok nunggu kamu makan separuh Open-mouthed smile

“lho kok, kenapa”

“liat be”

aku kemudian makan dengan lahapnya, entahlah apa yang ada dipikiran Risa saat itu. dia tersenyum kemudian kami sama sama tertawa. aku kepedasan dengan sambalnya. dan kamu tahu apa yang paling aku suka, tawanya. yaa, aku telah mengatakannya. dan teman apakah kamu mendengar dan mengingatnya ketika dia tertawa untuk pertama kali, aku masih ingat karena terlalu dekat dan aku tak bisa berkata apa apa lagi. aku hanya seorang diri ketika itu dan aku tak mampu menceritakannya. kami pulang kira kira pukul 2 siang, teman temanku masih menungguku dengan sabarnya. setelah bel pulang berbunyi guru mengumpulkan kami dan memberikan sedikit pengarahan untuk besok bahwa kami akan belajar khusus. kami pulang, aku dan Risa berbeda arah jadi kami tak mungkin pulang bersama.

senin aku Risa dan Indra sudah menyiapkan strategi, aku dan Indra akan berpikir dan agak berjauhan sedangkan Risa akan menjadi pembicara kami. jika waktu tak memungkinkan aku dan Indra juga bisa menjawab langsung. pada acara itu kami cuma menjadi peringkat kedua, dan tidak bisa melanjutkan ke fase selanjutnya. aku meminta maaf kepada Risa dan Risa meminta maaf kepada guru, mereka bisa menerimanya dan menurut mereka ini sudah cukup. sebenarnya kalo kami menang kami akan melaju ke final tapi yaa sudahlah.

setelah lomba itu kedekatan Risa dan Nando semakin menjadi, sedangkan aku kembali menjauh dari Risa. dan semakin lama semakin dekat, intinya dimana ada Risa disitu pasti akan ada Nando. menurut kabar yang beredar Nando telah berhasil menaklukkan hati Risa, aku tak percaya tapi aku juga percaya dan tak berani mencari tahu kebenarannya karena akan sangat menyakitkan bagiku.

setelah sekian lama aku akhirnya menyadari satu hal, dia hanya sekedar suka padaku tak lebih dan tak kurang. aku pergi, bukan kalah. hanya ini satu satunya kebenaran yang aku tahu. selain itu, aku tak tahu apa yang sebenarnya terjadi. beberapa bulan kami benar benar lost contact, padahal aku masih tak percaya. rindu rasanya ingin sekali aku menyapanya, sekarang aku semakin bodoh karena ini dan mungkin tak ada yang dapat disalahkan kecuali aku, mencintai tanpa meyakini.

“Rif kenapa ?”

Ibuku selalu menanyakan hal ini beberapa minggu belakangan.

“sakit ?”

“hhm dak ah, cuma kurang tidur mungkin”

“minum obat”

“biaso kok bu, mungkin kecapean”

mungkin naluri seorang ibu untuk tahu dan ikut merasakan apa yang dirasakan oleh anaknya. apakah aku harus bercerita pada ibuku, sepertinya tidak perlu.

“tapi kenapa harus Risa ?”

malam itu aku kembali tak bisa tidur, aku ingat tentang dia yang jauh disana. jauh tapi dekat. mungkin inilah hal sering dan tidak akan pernah aku mengerti, ada sebuah kekuatan yang aneh dan sangat kuat yang dapat mengubah dirimu menjadi sesuatu yang mengerikan dan bukan dirimu.

“ini bukan aku”

aku tak bisa melupakan atau mendekatinya. lebih baik aku pergi, aku ingin pergi jauh. entah kemana aku tak ingin pulang. atau aku harus menghadapinya, menentangnya melawan arus. rindu, dia jauh disana bersama mereka. ingin berjumpa dengannya, setiap hari bisa.

ini adalah masa masa yang buruk disekolah menengah pertama, semester ganjil aku hanya menduduki peringkat 6, semua tercengang. tak terkecuali Risa. aku sendiri tak terkejut, aku sudah merasakannya dari nilai kuisku yang kecil dan ujian yang kurang maksimal karena aku sendiri tak tahu tujuan. setelah libur semester aku meyakini bahwa tujuanku hanya ingin lulus dan Risa tak ada pikiran buruk lagi tentangnya, aku menganggapnya sebagi angin lalu yang juga ikut membawa layarku mengembang.

“Rif kenapa, bukan karena Risa kan ?”

“yaah, biasa malas belajar Den”

“benar kan”

“iya benar, kapanlah aku bohong”

semester dua aku bertekat bangkit, dan mungkin aku memang harus bangkit dari semua keterpurukan ini. teman, aku selalu berfikir untuk belajar dan semakin malas saja aku belajar.

dikelas aku tak bisa memahami pelajaran karena terlalu ribut, aku mencari cara belajar yang lain. dan mungkin kata guruku itu benar bahwa mencatat adalah cara belajar yang paling efektif, apa salahnya kan mencoba ?. satu semester itu benar benar aku lewati begitu saja tanpa ada yang istimewa kecuali diujung semester, aku berhasil menduduki tahtaku kembali. yaa, aku merebut kembali sesuatu yang pernah hilang dari hidupku. “merebut itu mudah, mempertahankannya yang sulit”.

setelah lama melupakan dan merindukan akhirnya pas kelas IX aku dan Risa kembali dalam satu kelas. kali ini tempat duduk kami agak berjauhan. aku duduk bersama Badri mantan ketua kelas kami kelas VIIa dulu sedangkan Risa kembali bersama sahabat kami Vena. sekitar 80 % teman teman kelas VIIa bergabung disini lagi, ketua kelas kami sekarang adalah Deni si berandal yang setia menemaniku dari kelas satu dan menjadi teman sebangkuku pas kelas VIII.

yaah, kebahagiaan itu kembali lagi. aku bahagia, bisa mendengar tawa itu setiap hari. rasanya aku sangat merindukannya, bukan hanya tawanya. orangnya juga. semangat dan harapan hidup itu kembali muncul, mungkin agak lebay. tapi aku memang suka saat ini.

meskipun aku tidak bisa melakukan apa apa untuk mendekatinya ataupun bicara padanya, kesempatan itu selalu ada. agaknya dia tahu kenapa aku tak bisa mendekat, itu karena terlalu banyak cowok yang mengitarinya sedangkan teman ceweknya terlalu ketat melindunginya Open-mouthed smile. kadang kami hanya bertatapan mata, kesempatan yang bisa dilakukan hanya saat ada diskusi dan kami terlibat disana. aku sendiri merasa beruntung karena Risa pasti akan memojokkan dan menentang pendapatku.

setiap hari jadi semakin kacau, entahlah. hubunga Risa dan Nando semakin dekat dan mereka selalu bersama kemanapun pergi. aku tak mau mengambil kesimpulan, karena menurut Vena Risa tak begitu mudahnya jatuh cinta apalagi mencintai orang yang jelas jelas tak mungkin bisa mereka bersama, seberapa kuatnya dia mencoba melengkapi. selalu ada yang kurang. begitu pula dengan aku, setiap kali aku melihat Risa, aku selalu merasa ada yang hilang.

aku hampir kehilangan harapan, dan kata kata Vena itu bagaikan setetes air dalam kemarau panjang. aku masih bisa berjalan meski dengan kaki yang pincang, aku masih bisa bernafas meski dari mulut yang menganga.

sebenarnya ada apa denganku, bukankah aku sudah melupakannya. aku tahu Risa selalu begitu, meski dia disana bersama yang lain dia tetap menjadi penyemangat dan motivasi terkuat untukku.

hari ini wali kelas kami akan memberikan motivasi sedikit, mungkin karena kami sudah kelas 3 jadi perlu suntikan semangat untuk belajar. wali kelas kami yang sekarang juga wali kelas kami yang dulu pas kelas 1, dan aku merasa sangat beruntung menjadi murid beliau lagi. yaa, pak Budi akan mengajar Matematika sekaligus menjadi wali kelas kami.

“kalian sudah besar sekarang, sudah tahu mana yang baik dan yang buruk”

“kalian seharusnya mampu dan mengerti bahwa kalian disini untuk belajar”

“kami para guru akan mengikuti kemauan kalian, asal kalian mau belajar. siapkan mental kalian, karena mulai tahun ini Ujian kelulusan akan disetarakan secara Nasional. tunjukkan bahwa kalian mampu dan bisa, ini adalah awal dari perjalanan panjang yang akan kalian tempuh nanti”

“tidak akan ada lagi hukuman penggaris, sekarang kalian yang akan menghukum diri kalian sendiri jika kalian berulah”

aku teringat kembali bagaimana pak Budi pada saat menjadi wali kelas kami pas kelas VII, pada saat itu pelajaran biologi. ketika itu guru tidak bisa masuk, kami diberi tugas untuk mencatat. bukannya mencatat kami malah ribut didalam kelas, pak Budi yang sedang mengajar dikelas sebelah langsung masuk dengan mata yang sangat tajam sambil memukul pintu kelas beliau menatap mata kami satu persatu kemudian beliau mengambil penggaris kayu yang panjangnya satu meter. beliau kembali memukulkan penggaris itu, kali ini dipapan tulis.

“semuanya kelapangan”

pelan dan terdengar cukup jelas, kami semua hanya berpandangan satu sama lain. tak berani menatap kearah Bapak guru yang sedang kesal ini. itu adalah pertama kalinya kami melihat Guru seperti pak Budi marah, Guru yang selalu berhasil membuatku tertawa dengan Matematikanya ini marah luar biasa. ingin rasanya aku berlari dari kelas itu tapi pasti akan langsung kena pentung dan babak belur dipukuli.

“ceepaat”

kali ini beliau memekik, dan rasanya jarak beliau hanya sejengkal ditelingaku. sepertinya beliau membentakku saja. padahal jaraknya cukup jauh, mungkin telingaku akan sakit sekali jika saja aku tak duduk dibelakang Vena. tak ada satupun dari kami yang bergerak. jantungku mulai berdegup kencang dengan wajah kami yang sangat tegang.

“ayo keluar”

sekali lagi beliau membentak sambil memukul papan tulis.

Badri kemudian berdiri diikuti oleh kami semua, kemudian satu persatu kami keluar. pak Budi lalu menutup pintu kelas ketika kami semua sudah keluar. kami diatur menjadi 4 banjar, aku berada dibelakang Deni.

“pelajaran apa tadi ?”

tak ada yang menjawab. kami semua tertunduk dengan posisi siap.

“tegakkan kepala”

“pelajaran apa tadi ?”

“jawab”

Badri kemudian menjawab dengan suara yang kurang jelas.

“biologi pak”

“sini kamu Badri”

Badri lalu maju kedepan dan menghadap kearah kami.

“jadi cuma Badri yang belajar tadi ?”

“apa tugasnya ?”

“disuruh mencatat pak”

“sudah selesai ?”

“belum pak”

“sudah kembali sana”

Badri kembali kebarisan, semua yang lewat melihat kearah kami. Guru, staf TU, kakak kelas. mereka sepertinya terheran heran dengan ulah kami ini.

“kalian kesini untuk belajar”

“tunjukkan tangan kalian”

kami disuruh menunjukkan kedua tangan kami. beliau kemudian mengambil buku tulis dari dalam ruang guru dan menggulungnya hingga berbentuk seperti pukulan. lalu beliau mulai memukul tangan teman teman wanita satu persatu. aku rasa pukulannya tidak terlalu kuat, tapi Gita mulai menangis setelah mendapat pukulan itu dan disusul sebagian kecil teman cewek lainnya.

setelah semua selesai, pak Budi memerintahkan Teman cewek untuk kembali kekelas. tapi tak ada yang mau bergerak. kemudian beliau mengambil penggaris kayu yang beliau letakkan didepan kami tadi. dan memulai penghakiman ini dari Badri,

“pak”

suara itu terdengar nyaring sekali, tak terbayang lagi sakitnya.

“pak”

kedua tangan itu memerah tapi tetap dikeluarkan oleh Badri, dia tak meringis sama sekali. ketika sampai di Deni aku sangat terkejut bagaimana tangan Deni sampai terhempas kebawah kemudian dia naikkan lagi, ketika tangan keduanya terpukul tak sempurna, aku melihat Deni menyeringai menahan sakit yang teramat sangat itu. dan warna biru kehitaman muncul disana tanda bahwa tangan itu menolak dengan tegas pukulan tadi. aku memikirkan strategi, pikirku jika penggaris itu akan menyentuh tanganku maka aku tidak akan menahannya. aku akan mengikuti sedikit dan memperlebar permukaan tangan sehingga seluruh bagian tangan akan terkena. jika perhitunganku tepat maka aku hanya akan merasakan sedikit sakit saja.

sial bagiku, tiba pada banjar kedua pak Budi memotong penggaris itu menjadi lebih pendek dan

“pak”

beliau memukul dengan sangat senang hatinya.

kedua tanganku tak terselamatkan. mataku menatap langit menahan perih yang hanya dirasa oleh tanganku ini. sementara hari mulai terik, pikirku ini sudah pukul 12. teman cewek diminta pak Budi untuk masuk kekelas, tapi masih tak ada yang mau bergerak.

setelah semua Pria menerima sengatan pak Budi, beliau kembali kedepan dengan sorot mata yang sangat tajam.

“saya hargai kekompakan kalian, tapi jangan dalam hal keburukan. silahkan semuanya masuk kekelas”

rupanya pak Budi tak tega dengan teman cewek yang mulai kepanasan, kami semua selamat karena tak jadi dijemur sebagai bonusnya. sesampai dikelas kami semua diam, tak ada yang mengobrol, tak ada yang belajar, apalagi mencatat. tangan kami sakit semua. teman teman sibuk menghibur teman cewek yang menangis, kami meminta maaf.

“teman teman maaf yoo, ini salah aku”

Badri mengaku salah, tapi kami tak terima.

“bukan cuma kau Dri, ini salah cowoknyo”

Deni yang merupakan biang kerok kelas mengambil jalan tengah yang cukup adil.

“sudahlah, sekarang kan sudah terjadi. untuk apolagi cubo?”

“mending sekarang kito diem be daripada keno hukum lagi”

kami semua diam sampai bel pulang berbunyi.

aku masih mengingatnya, karena itu adalah cikal bakal terjadinya hukuman demi hukuman yang diterima kelas kami. dan yang aku tahu hampir semua guru selalu membicarakan kenakalan kami, tapi dibalik kenakalanku dan teman teman, kami juga dikenal sebagai kelas yang berprestasi. disinilah rumah 2 juara umum angkatan kami, aku dan Risa. tidak tanggung tanggung, aku pemegang juara 1 dan Risa juara 3. meski tidak bertahan lama, aku senang berhasil berdampingan dengan Risa karena kelas dua aku benar benar terpuruk.

yaah, itu dulu. sekarang aku sudah kelas 3, dan aku sepertinya harus melakukan sesuatu yang berarti sebelum tamat.

aku juga tidak pernah tahu apa yang harus aku lakukan setelah ini dan sebelum semuanya terlambat sepertinya aku harus berhati hati.

setelah motivasi singkat yang diberikan oleh pak Budi hari itu, aku berjanji akan melakukan perubahan dan tidak ingin bermalas malasan lagi.

“teman teman, mulai minggu depan kita akan mengadakan iuran. uangnya nanti akan kita gunakan untuk memberikan kenang kenangan, tapi pak Budi tahunya iuran kita ini cuma untuk kebutuhan kelas”

pagi itu Rina memaparkan sebuah inisiatif yang menurut kami sangat baik dan bagus. kami semua setuju, setiap minggu akan dikumpulkan sejumlah uang dengan kisaran Rp 2000 sampai Rp 3000 tergantung kebutuhan, uang untuk kenang kenangan kami itu di tetapkan sebesar Rp 2000, jika ada kebutuhan lain kami akan iuran lagi dan tidak boleh mengganggu uang khusus tersebut.

kelas tiga, dan aku sudah akil baligh. Ibuku mengatakan bahwa sekarang aku sendiri yang akan menanggung dosa dari setiap hal buruk yang aku lakukan. sebagai seorang muslim aku akan berusaha menepati dan memenuhi kewajibanku, aku harus usaha.

minggu pertama sekolah aku sangat semangat, dan terus semangat pada minggu minggu berikutnya. sekarang pelajaran yang paling aku tunggu adalah pelajaran matematika, pak Budi sepertinya tak pernah kehabisan cerita dan lawakan konyol namun cerdas yang menjadi ciri khasnya. setiap habis bab kami akan mengadakan kuis, dan hari ini adalah kuis ke 6 kami.

“dikelas ini ada yang sudah dapat 100 selama kuis dengan saya, saya harap dia akan mendapatkan nilai 100 juga pada kuis terakhir ini”

teman teman bertanya tanya, dan Febri mengatakan kalau aku adalah orang tersebut. dia tahu karena memang dia yang mengoreksi nilai tersebut.

UJian menggunakan tipe soal pilihan berganda dengan 20 soal, jadi tiap soal bobot nilainya 5.

dan nilaipun keluar, segera berita menyebar. aku kembali jadi perbincangan hangat,

“makannya apa sih Rif”

atau

“minumnya susu ya Rif tiap pagi”

aku hanya menjawab dengan senyum, kadang aku bercanda dengan mengatakan bahwa aku minum air aki makannya batu. yang bertanya malah marah, yaa aku jawab sekenanya sambil minta maaf. diakhir semester aku mendapat nilai tertinggi dikelas meski hanya menduduki posisi ke 2 sebagai juara umum aku sudah senang.

semester terakhir dikelas terakhir, akan segera dimulai. ada perasaan gelisah dan sedih disini, sebentar saja aku mengingat rasanya baru kemarin kami berkenalan dan sekarang sudah harus pergi lagi.

sekarang tiap pulang sekolah, setelah istirahat sebentar kami diwajibkan untuk mengikuti pelajaran tambahan. mungkin inilah strategi yang diharapkan mampu membantu kami untuk bisa menghadapi ujian nanti.

menjelang akhir sekolah, aku fokus pada Ujian yang akan kami hadapi. masalah Risa atau apalah namanya aku buang untuk sementara. kami belajar dan digenjot selama 3 bulan, segala strategi pun dilakukan oleh guru agar kami siap menghadapi ujian yang akan dilaksanakan. entahlah siapa yang memulai, siapa yang patut disalahkan dengan sistem yang sangat menekan ini. kami hanya bisa mengikuti, Ujian Nasional syarat mutlak mendapatkan Ijazah.

kami semua menjadi semakin semangat, mungkin inilah kesempatan terakhir kami untuk saling bersama. aku juga sangat semangat, berangkat pukul setengah 7. piket kelas benar benar diterapkan, dan yang paling asyik adalah sekarang lebih banyak waktu untuk mengobrol sedang belajar sedikit sekali. yang paling serius hanya belajar saat les atau pelajaran tambahan.

Pada saat ujian dilaksanakan, tak ada muka ketegangan atau apalah namanya. aku dan teman teman malah sangat santai, apalagi ujiannya dimulai pukul 8. kami berangkat jam setengah 8 dan masih sempat bercanda, ujian dilaksanakan dengan 2 soal yang berbeda, sebenarnya kalau diperhatikan hanya dibedakan letak nomor soalnya saja, dan tidak terlalu sulit.

setelah ujian usai, aku mulai menormalisasi hubunganku dengan teman teman, termasuk Risa. yah, memang hubungan ku dengan teman teman masih baik. tapi apa salahnya aku memperbaiki hubungan kami, karena kami akan mengakhiri masa sekolah menengah pertama ini. aku tak ingin mempunyai masalah dengan mereka apalagi sampai meninggalkan musuh.

“Rif, kamu sebenarnya suka kan sama Risa ?”

Vena menanyakan hal ini ketika aku sedang bersiap pulang.

“hhm aku tak bisa”

“kenapa ?”

“tanyakan pada matamu”

“aku tahu, tapi mata ini bicara lain dari dugaanmu”

“sudahlah Ven, aku tak ingin membahasnya lagi. buku ini aku tutup”

“ya sudah, aku mengerti. terlalu rumit untukmu. asal kamu tahu, Risa tidak pernah merasa dekat sama Nando. dia hanya merasa Nando sebagai reflektor, orang yang bisa menceritakan semua tentang dirimu dan Risa senang mendengarnya”

“makasih Ven, but it’s too late. aku kira sekarang dia telah bahagia bersama Nando”

“kapan kamu akan mengerti Rif ?”

“aku sudah mengerti dengan posisiku, dan aku tak mungkin membuang temanku meski sejahat apapun dia padaku”

aku semakin bingung, mengapa dia memilih demikian. mengapa dia tak pergi kesini bersamaku. bodohnya aku, dia memilih itu karena aku tak mampu mengatakan apa apa dihadapannya. baiklah, aku anggap dia merupakan cinta pertamaku. dan aku tidak akan pernah melupakannya sampai kapanpun. dan ini adalah pelajaran yang tidak diajarkan disekolah manapun. meski ada sedikit penyesalan disana, satu hal yang aku tahu, ada orang yang pernah mencintaiku. dan itu sudah cukup.

“Rif, kamu lanjut sekolah kan ?”

“Insya Allah, kamu ?Smile

“Insya Allah”

sms Risa diakhir mei itu membuat aku tenang.

ini tentang dia yang jauh disana, yang akan selalu ku ingat caranya tertawa. kabar terakhir mengatakan dia lanjut kuliah, dan yang paling penting dia belum menikah Open-mouthed smile.

sampai ketemu lagi, Bray . . .

my 1st Fiction story, maaf masih kasar Open-mouthed smile