Arsip Kategori: laporan SATOP II

LAPORAN TETAP PRAKTIKUM SATUAN OPERASI II SUHU DAN KALOR

Standar

I. PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Secara umum untuk mendeteksi adanya kalor yang dimiliki oleh suatu benda yaitu dengan mengukur suhu benda tersebut. Jika suhunya tinggi maka kalor yang dikandung oleh benda sangat besar, begitu juga sebaliknya jika suhunya rendah maka kalor yang dikandung sedikit (Purnomo, 2008).

Kalorimeter adalah alat yang digunakan untuk mengukur kalor atau energi panas. Kaor adalah suatu energi panas suatu zat yang dapat diukur dengan alat termometer dengan perantara air yang telah didihkan. Kalor jenis suatu benda memiliki masa yang berbeda-beda tergantung pada energi panas yang dimiliki oleh benda tersebut. Perpindahan Kalor dipelajari sebagai sebuah mata kuliah di beberapa jurusan dalam bidang teknik. Panas dalam bahasa Indonesia bisa mengandung dua arti, satu berarti kata sifat dan yang lain berarti kata benda, sedangkan Kalor sudah pasti kata benda. Definisi sederhana menyatakan Perpindahan Kalor adalah ilmu yang mempelajari perpindahan kalor dari satu system ke system lain dengan berbagai aspek yang menjadi implikasinya (Koestoer, 2008).

Perpindahan kalor atau heat transfer ialah ilmu yang mempelajari perpindahan energi yang terjadi karena adanya perbedaan suhu antara benda atau matrial. Dasar termodinamika telah kita ketahui bahwa energi yang pindah itu dinamakan kalor atau panas (heat) (Holman, 2006).

Secara alami, panas selalu mengalir dari benda bersuhu tinggi kebenda yang bersuhu lebih rendah, tetapi tidak perlu dari benda berenergi termis banyak kebenda berenergi termis lebih sedikit.

Kalor adalah suatu bentuk energi yang diterima oleh suatu benda yang menyebabkan benda tersebut berubah suhu atau wujud bentuknya. Kalor berbeda dengan suhu, karena suhu adalah ukuran dalam satuan derajat panas. Kalor merupakan suatu kuantitas atau jumlah panas baik yang diserap maupun dilepaskan oleh suatu benda. Dari sisi sejarah kalor merupakan asal kata caloric ditemukan oleh ahli kimia perancis yang bernama Antonnie laurent lavoiser (1743 – 1794). Kalor memiliki satuan Kalori (kal) dan Kilokalori (Kkal). 1 Kal sama dengan jumlah panas yang dibutuhkan untuk memanaskan 1 gram air naik 1 derajat celcius (Akbar, 2010).

Kalor didefinisikan sebagai energi panas yang dimiliki oleh suatu zat. Secara umum untuk mendeteksi adanya kalor yang dimiliki oleh suatu benda yaitu dengan mengukur suhu benda tersebut. Jika suhunya tinggi maka kalor yang dikandung oleh benda sangat besar, begitu juga sebaliknya jika suhunya rendah maka kalor yang dikandung sedikit. Dari hasil percobaan yang sering dilakukan besar kecilnya kalor yang dibutuhkan suatu benda(zat) bergantung pada 3 faktor yaitu massa zat, jenis zat (kalor jenis), perubahan suhu (Purnomo, 2008).

B. Tujuan

Tujuan dari praktikum ini adalah untuk mengetahui konversi satuan suhu dari beberapa skala dan mengetahui titik didih.

II. TINJAUAN PUSTAKA

A. Suhu

Suhu adalah besaran yang menyatakan derajat panas suatu benda. Sifat termometrik adalah sifat-sifat benda yang bisa berubah akibat adanya perubahan suhu. Termometer adalah alat untuk mengukur suhu suatu benda (Purnomo, 2008).

Termometer zat cair: menggunakan prinsip bahwa zat cair akan memuai jika dipanaskan. Termometer Bimetal: menggunakan prinsip bahwa logam akan memuai jika dipanaskan. Termometer Hambatan: menggunakan prinsip bahwa bila seutas kawat dipanaskan, hambatan listriknya akan bertambah. Termokopel: pemuain antara dua logam yang kedua ujungnya disentuhkan akan menghasilkan GGL. Termometer Gas: sejumlah gas yang dipanaskan dan volumenya tetap maka tekanannya bertambah. Pyrometer: mengukur intensitas radiasi yang dipancarkan oleh benda yang sangat panas (Purnomo, 2008).

Perbandingan Skala Termometer

clip_image002

Perbandingan ini digunakan untuk mengkonversikan suhu suatu skala kedalam beberapa skala lainnya yang sesuai dengan Standar Internasional (SI), sehingga dapat digunakan sesuai dengan kebutuhan kita.

B. Kalor

Secara umum untuk mendeteksi adanya kalor yang dimiliki oleh suatu benda yaitu dengan mengukur suhu benda tersebut. Jika suhunya tinggi maka kalor yang dikandung oleh benda sangat besar, begitu juga sebaliknya jika suhunya rendah maka kalor yang dikandung sedikit (Purnomo, 2008).

Kalorimeter adalah alat yang digunakan untuk mengukur kalor atau energi panas. Kaor adalah suatu energi panas suatu zat yang dapat diukur dengan alat termometer dengan perantara air yang telah didihkan. Kalor jenis suatu benda memiliki masa yang berbeda-beda tergantung pada energi panas yang dimiliki oleh benda tersebut. Perpindahan Kalor dipelajari sebagai sebuah mata kuliah di beberapa jurusan dalam bidang teknik. Panas dalam bahasa Indonesia bisa mengandung dua arti, satu berarti kata sifat dan yang lain berarti kata benda, sedangkan Kalor sudah pasti kata benda. Definisi sederhana menyatakan Perpindahan Kalor adalah ilmu yang mempelajari perpindahan kalor dari satu system ke system lain dengan berbagai aspek yang menjadi implikasinya (Koestoer, 2008).

Perpindahan kalor atau heat transfer ialah ilmu yang mempelajari perpindahan energi yang terjadi karena adanya perbedaan suhu antara benda atau matrial. Dasar termodinamika telah kita ketahui bahwa energi yang pindah itu dinamakan kalor atau panas (heat) (Holman, 2006).

Secara alami, panas selalu mengalir dari benda bersuhu tinggi kebenda yang bersuhu lebih rendah, tetapi tidak perlu dari benda berenergi termis banyak kebenda berenergi termis lebih sedikit. Kalor adalah suatu bentuk energi yang diterima oleh suatu benda yang menyebabkan benda tersebut berubah suhu atau wujud bentuknya. Kalor berbeda dengan suhu, karena suhu adalah ukuran dalam satuan derajat panas. Kalor merupakan suatu kuantitas atau jumlah panas baik yang diserap maupun dilepaskan oleh suatu benda. Dari sisi sejarah kalor merupakan asal kata caloric ditemukan oleh ahli kimia perancis yang bernama Antonnie laurent lavoiser (1743 – 1794). Kalor memiliki satuan Kalori (kal) dan Kilokalori (Kkal). 1 Kal sama dengan jumlah panas yang dibutuhkan untuk memanaskan 1 gram air naik 1 derajat celcius.

Teori Kalor Dasar:

1. Kalor yang diterima = kalor yang dilepas : Azas Black

- Penemu adalah Joseph Black (1720 – 1799) dari Inggris.

2. Kalor dapat terjadi akibat adanya suatu gesekan

- Penemunya adalah Benyamin Thompson (1753 – 1814) dari Amerika Serikat
3. Kalor adalah salah satu bentuk energi

- Ditemukan oleh Robert Mayer (1814 – 1878)

4. Kesetaraan antara satuan kalor dan satuan energi disebut kalor mekanik.
- Digagas oleh James Prescott (1818 – 1889)

Kalor adalah energi yang berpindah dari benda yang suhunya lebih tinggi ke benda yang suhunya lebih rendah ketika kedua benda bersentuhan. Suhu adalah ukuran rata -rata energi kinetik partikel dalam suatu benda. Kalor yang diberikan dalam sebuah benda dapat digunakan untuk 2 cara, yaitu untuk merubah wujud benda atau untuk menaikkan suhu benda itu. Besar kalor yang diberikan pada sebuah benda yang digunakan untuk menaikkan suhu tergantung pada :

· massa benda

· kalor jenis benda

· perbedaan suhu kedua benda

Secara matematis persamaan dapat ditulis dengan :

Q = m. c. Δt

Sedangkan bila kalor yang diberikan digunakan untuk merubah wujud zat/benda, maka kalor yang diberikan tergantung pada massa benda saja, sesuai dengan per samaan :

Q = m. L

Setiap benda pada umumnya mempunyai 3 bentuk/fase, yaitu padat, cair dan gas. Perubahan wujud yang terjadi pad ketiga bentuk benda itu adalah : membeku, melebur, mencair, mengembun, menyublim, deposisi dan menguap seperti gambar di bawah ini.

clip_image004

Jika sebuah benda dipanaskan/diberikan kalor, maka partikel -partikel dalam benda itu akan bergetar lebih kuat sehingga saling menjauh. Sehingga ukuran benda akan menjadi lebih besar. Kita katakan bahwa benda itu memuai. Pemuaian dapat terjadi baik pada benda padat, cair maupun gas.

a) Pemuaian Panjang

Pada pemuaian panjang dianggap bahwa benda mempunyai luas penampang yang kecil, sehingga ketika dipanaskan hanya memuai pada arah panjangnya saja. Besarnya pertambahan panjang sebuah benda yang dipanaskan adalah berbanding lurus dengan :

· panjang mula-mula benda

· kenaikan suhu

Secara matematis dituliskan :

ΔL = L.t

Sedangkan panjang benda setelah dipanaskan adalah :

Lt = Lo + ΔL

b) Pemuaian Luas

Pada pemuaian luas, pemuaian terjadi pada arah melebar pada sisi panjang dan lebar

benda. Analog dengan pemuaian panjang, pada pemuaian luas berlaku persamaan :

At = Ao + A

c) Pemuaian Volume

Pemuaian volume biasanya terjadi pada zat cair dan gas. Pemuaian ini terjadi pada

arah memanjang, melebar dan meninggi. Analog dengan pemuaian panjang, persamaan pada pemuaian volume adalah :

Vt = Vo + V

Perpindahan kalor dapat dilakukan dengan 3 cara, yaitu :

1. Konduksi

Adalah proses perpindahan kalor yang terjadi tanpa disertai dengan perpin dahan partikel-partikel dalam zat itu, contoh : zat padat (logam) yang dipanaskan. Berdasarkan kemampuan kemudahannya menghantarkan kalor, zat dapat dibagi menjadi : konduktor yang mudah dalam menghantarkan kalor dan isolator yang lebih

sulit dalam menghan tarkan kalor. Contoh konduktor adalah aluminium, logam besi,

dsb, sedangkan contoh isolator adalah plastik, kayu, kain, dll.

Besar kalor yang mengalir per satuan waktu pada proses konduksi ini tergantung pada :

· Berbanding lurus deng an luas penampang batang

· Berbanding lurus dengan selisih suhu kedua ujung batang, dan

· Berbanding terbalik dengan panjang batang

2. Konveksi

Adalah proses perpindahan kalor yang terjadi yang disertai dengan perpindahanpergerakan fluida itu sendiri. Ada 2 jenis konveksi, yaitu konveksi alamiah dan konveksi paksa. Pada konveksi alamiah pergerakan fluida terjadi karena perbedaan massa jenis, sedangkan pada konveksi paksa terjadinya pergerakan fluida karena ada paksaan dari luar. Contoh konveksi alamiah : nyala lilin akan menimbulkan konveksi udara disekitarnya, air yang dipanaskan dalam panci, terjadinya angin laut dan angin darat, dsb. Contoh konveksi paksa : sistim pendingin mobil, pengering rambut, kipas angin, dsb.

Besar laju kalor ketika sebuah benda panas memindahkan kalor ke fluida di sekitarnya adalah berbanding lurus dengan luas permukaan benda yang bersentuhan dengan fluida dan perbedaan suhu antara benda dengan fluida.

3. Radiasi

Adalah perpindahan kalor dala m bentuk gelombang elektromagnetik, contoh : cahaya

matahari, gelombang radio, gelombang TV, dsb.

Berdasarkan hasil eksperimen besarnya laju kalor radiasi tergantung pada : luas permukaan benda dan suhu mutlak benda seperti dinyatakan dalam hukum Stefan- Boltzman berikut ini : “Energi yang dipancarkan oleh suatu permukaan benda hitam dalam bentuk radiasi kalor tiap satuan waktu sebanding dengan luas permukaan benda (A) dan sebanding dengan pangkat empat suhu mutlak permukaan benda itu”.

Pemuaian adalah bertambahnya ukuran suatu benda karena pengaruh perubahan suhu atau bertambahnya ukuran suatu benda karena menerima kalor.

Pemuaian panjang adalah bertambahnya ukuran panjang suatu benda karena menerima kalor. Pemuaian panjang suatu benda dipengaruhi oleh beberapa faktor yaitu panjang awal benda, koefisien muai panjang dan besar perubahan suhu. Koefisien muai panjang suatu benda sendiri dipengaruhi oleh jenis benda atau jenis bahan.

clip_image006

C. Kalor jenis

Perbandingan banyaknya tenaga kalor (ΔQ) yang dibekalkan kepada sebuah benda untuk menaikkan temperaturnya sebanyak ΔT dinamakan kapasitas kalor (C) dari benda tersebut yakni: Kapasitas kalor per satuan massa sebuah benda yang dinamakan kalor jenis (c) adalah ciri (karakteristik) dari bahan yang membentuk benda tersebut: Kalor jenis adalah jumlah energi yang dipindahkan dari suatu benda atau tubuh ke benda lain akibat dari suatu perbedaan suhu diantara benda atau tubuh tersebut (Martin, 2010)

Kalor dinyatakan dalam satuan energi joule (J) menurut satuan SI. Kalor umunya dinyatakan dalam satuan kalori (kkal), yaitu satu kalori adalah jumlah kalor yang diperlukan untuk meningkatkan suhu 1 gram air sebanyak 1 derajat celcius pada suhu kamar (293 K) (Metana, 2010).

Kalor yang dipindahkan dari atau ke sistem diukur di dalam alat yang dinamakan kalorimeter, yang terdiri dari sebuah wadah cuplikan kecil yang dibenamkan dalam sebuah bejana air yang besar. Bejana luar itu disekat dengan

baik sekali di sebelah luar untuk menghalangi lubang kamar mencapai air, sedangkan wadah di dalam dibuat dari tembaga atau suatu bahan penghantar kalor yang lain untuk mengizinkan kalor acara mudah dipertukarkan antara wadah itu dan air (Cromer, 2001).

Hukum Hess, kalor reaksi suatu reaksi kimia dapat ditentukan berdasarkan data perubahan entalpi pembentukan standar, energi ikatan dan secara eksperimen. Proses dalam kalorimeter berlangsung secara adiabatik, yaitu tidak ada energi yang lepas atau masuk dari luar ke dalam kalorimeter (Petrucci,2004).

Panas jenis air jauh lebih besar dari pada panas jenis zat lain. Sebagai contoh, panas jenis air sepuluh kali lebih besar dari pada panas jenis aluminium. Karena kapasitas panasnya yang sangat besar, air adalah bahan yang baik sekali untuk menyimpan energi termis, seperti misalnya dalam sistem pemanasan solar/matahari. Air juga merupakan pendingin yang baik. Air dalam jumlah banyak, seperti danau atau lautan, cenderung membuat variasi temperatur tidak berlebihan didekatnya karena air dapat menyerap atau melepas energi termis dalam jumlah yang besar sementara mengalami perubahan tenperatur sangat kecil. Karena panas jenis air praktis konstan meliputi jangkauan temperatur yang lebar, panas jenis sebuah benda dengan mudah dapat diukur dengan memanaskan benda sampai suatu temperatur tertentu yang mudah diukur, dengan menempatkanya dalam bejana air yang massa dan temperaturnya diketahui, dan dengan mengukur temperatur kesetimbangan akhir. Jika seluruh sistem terisolasi dari sekitarnya maka panas yang keluar dari benda sama dengan panas yang masuk ke ai dan wadahnya. Prosedur ini dinamakan kalorimetri, dan wadah air yang terisolasi dinamakan kalorimeter (Tipler, 2004).

Tidak ada usaha dikerjakan oleh sistem atau lingkungan. Sebagai akibatnya perubahan suhu lingkungan (air) hanyalah karena kalor yang dipertukarkan antara air dan sistem. Perubahan suhu ini diukur dengan sebuah termometer, dan kalor yang dipertukarkan dihitung dari massa dan kalor jenis air yang diketahui. Dari kekekalan tenaga, kalor yang diperoleh oleh sistem adalah harga negatif dari kalor yang hilang dari lingkungan dan sebaliknya. Dengan demikian kalorimeter mengukur kalor yang dipertukarkan oleh sistem dibawah syarat-syarat tertentu (Cromer, 2001).

III. PELAKSANAAN PRAKTIKUM

A. Tempat dan Waktu

Praktikum Satuan operasi II ini dilaksanakan di Laboratorium Kimia Hasil Pertanian Jurusan Teknologi Pertanian Fakultas Pertanian Universitas Sriwijaya. Pada Hari Kamis tanggal 24 November 2011 Pukul 10.00 – 11.30 WIB.

B. Alat dan Bahan

Alat yang digunakan dalam praktikum ini adalah : 1) Beaker Glass, 2). Hot plate 3). Neraca timbangan, 4). Termometer. Sedangkan bahan yang digunakan adalah : 1) Aquades, 2) batu es,

C. Cara kerja

Cara kerja praktikum pengenalan alat ini adalah :

· Dididihkan

1. 0,25 kg air dimasukkan kedalam beaker glass.

2. Suhu awalnya diukur dengan menggunakan termometer

3. Air dididihkan diatas hotplate

4. Suhu akhirnya diukur denga menggunakan termometer

· Dicairkan

1. 500 ml air dimasukkan kedalam beaker glass

2. Batu es ditimbang menggunakan timbangan

3. Suhu batu es diukur menggunakan termometer

4. Batu es dimasukkan kedalam beaker glass yang telah diisi air

5. Suhu akhirnya diukur menggunakan termometer.

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

A. Hasil

Dari Praktikum Pengenalan Alat yang telah dilakukan, didapatkan hasil sabagai berikut :

Tabel 1

Perlakuan

M (Kg)

∆ t (oC)

C(J/kg oC

Q (J)

Dididihkan

0,25

64

4200

67200

Dicairkan

0,38

13,4

2090

10642,28

B. Pembahasan

Suhu merupakan rata – rata energi kinetik yang digunakan untuk menyatakan derajat panas suatu benda. Kalor adalah energi panas yang dimiliki oleh suatu benda yang mengalir dari suhu tinggi ke suhu yang lebih rendah. Kalor jenis adalah energi yang dibutuhkan untuk menaikkan suhu sebesar 1o dari 1 g bahan.

Titik didih suatu zat adalah suhu yang tekanan uap jenuhnya sama dengan tekanan di atas permukaan zat cair. Titik Didih suatu zat cair dipengaruhi oleh tekanan udara, artinya makin besar tekanan udara makin besar pula titik didih zat cair tersebut. Pada tekanan dan temperatur udara standar(76 cmHg, 25ºC) titik didih air sebesar 100ºC.

Menguap adalah peristiwa perubahan wujud dari cair menjadi gas. Pada saat menguap, benda memerlukan kalor. Pada saat menguap partikel-partikel yang ada di permukaan zat cair,meninggalkan zat cair tersebut, untuk dapat terjadi maka diperlukan energi panas yang cukup besar. Contoh dalam kehidupan sehari-hari adalah saat menjemur pakaian kita memerlukan panas matahari untuk mempercepat penguapan air

Mengembun merupakan peristiwa penggabungan kembali partikel-partikel zat yang berada dalam wujud gas menjadi zat cair. Pada saat terjadi pengembunan terjadi pelepasan kalor sehingga suhu benda akan turun. Contoh peristiwa pengembunan adalah peristiwa terjadinya embun di pagi hari.

Melebur adalah peristiwa perubahan dari benda padat ke cair. Untuk dapat berubah wujud dari padat ke cair, zat padat memerlukan panas. Panas yang dibutuhkan untuk meleburkan zat sebanding dengan massa zat dan bergantung pada jenis zat, semakin besar massa zat maka semakin besar pula panas yang dibutuhkan. Contoh melebur adalah es menjadi air apabila kita letakkan di atas meja. Untuk meleburkan es yang lebih besar membutuhkan panas yang lebih besar, dibandingkan meleburkan es yang kecil.

Membeku adalah perubahan wujud dari cair ke padat. Proses membeku benda melepaskan panas. Pada saat membeku suhu benda tetap. Kalor yang dilepaskan tidak untuk menurunkan suhu zat. Panas itu dilepaskan untuk mengurangi kecepatan gerak zat cair agar berubah wujud menjadi zat padat. Contoh membeku adalah air yang berbentuk cair akan menjadi es yang berbentuk padat, atau lilin yang terbakar akan mencair dan kembali membeku.

Menyublim adalah perubahan dari bentuk padat ke bentuk gas, atau dari gas ke padat. Pada proses perubahan dari padat ke gas benda memerlukan panas, dan dari gas ke padat benda akan melepaskan panas. Contoh peristiwa menyublim dalam kehidupan sehari-hari adalah kapur barus atau kamper yang lama-kelamaan akan mengecil dan habis apabila kita masukkan ke dalam lemari pakaian kita, hal itu terjadi karena kamper atau kapur barus menerima panas dari lingkungan (baju).

Secara umum apabila benda menerima panas suhu benda akan naik dan sebaliknya apabila melepaskan panas suhu benda akan turun

Pemuaian adalah bertambahnya ukuran benda baik panjang, luas, atau volume.Pemuaian yang terjadi dapat merugikan dan menguntungkan bagi manusia.

Termometer adalah alat yang digunakan untuk mengukur suhu suatu benda atau ruangan. Termometer air raksa dalam gelas adalah termometer yang dibuat dari air raksa yang ditempatkan pada suatu tabung kaca. Tanda yang dikalibrasi pada tabung membuat temperatur dapat dibaca sesuai panjang air raksa di dalam gelas, bervariasi sesuai suhu. Untuk meningkatkan ketelitian, biasanya ada bohlam air raksa pada ujung termometer yang berisi sebagian besar air raksa; pemuaian dan penyempitan volume air raksa kemudian dilanjutkan ke bagian tabung yang lebih sempit. Ruangan di antara air raksa dapat diisi atau dibiarkan kosong.Sebagai pengganti air raksa, beberapa termometer keluarga mengandung alkohol dengan tambahan pewarna merah. Termometer ini lebih aman dan mudah untuk dibaca.

Termometer Infra Merah menawarkan kemampuan untuk mendeteksi temperatur secara optik – selama objek diamati, radiasi energi sinar infra merah diukur, dan disajikan sebagai suhu. Mereka menawarkan metode pengukuran suhu yang cepat dan akurat dengan objek dari kejauhan dan tanpa disentuh – situasi ideal dimana objek bergerak cepat, jauh letaknya, sangat panas, berada di lingkungan yang bahaya, dan/atau adanya kebutuhan menghindari kontaminasi objek seperti makanan, alat medis, obat-obatan.

V. KESIMPULAN

Dari hasil praktikum yang telah kita lakukan, dapat disimpulkan bahwa :

1. Suhu merupakan rata – rata energi kinetik yang digunakan untuk menyatakan derajat panas suatu benda.

2. Kalor adalah energi panas yang dimiliki oleh suatu benda yang mengalir dari suhu tinggi ke suhu yang lebih rendah.

3. Kalor jenis adalah energi yang dibutuhkan untuk menaikkan suhu sebesar 1o dari 1 g bahan .

4. Termometer adalah alat yang digunakan untuk mengukur suhu

5. Satuan suhu yang sesuai dengan SI adalah oC oR oF oK.

6. Fase perubahan yang terjadi pada suatu zat antara lain membeku, menguap, mencair, menyublim, melebur, dan mengembun.

DAFTAR PUSTAKA

Akbar.2010. Fisika Universitas Mekanika Panas Bunyi . Titrimetra Mandiri. Jakarta

Cromer.2001.pemanasan benda. Cipta karya. Bandung.

Edukasi.2011.(online).(http:edukasi.net/indeks.of.php/jar/materi%20pokok/view&id,

diakses pada tanggal 28 november

2011)

Holman.2006.penerapan ilmu fisika. Tiga serangkai. Jakarta.

Kangenan, M.2010.Fisika untuk SMU.Erlangga. Jakarta.

Koestoer.2008. Fisika untuk Smu Kelas 1. Gravindo. Media Pratama. Jakarta.

Metana.2010.fisika disekitar kita. Diva press. jakarta

Petrucci.2004. Seri Fisika Dasar Mekanika. Salemba Teknika. Jakarta.

Purnomo.2008. Fisika Universitas. Erlangga. Jakarta

Tipler.2004.Suhu dan Kalor.PT Gramedia Pustaka Utama.Jakarta.

.

LAPORAN PRAKTIKUM SATUAN OPERASI I SUHU

Standar

I. PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Dalam kehidupan sehari – hari tanpa kita sadari bahwa kita telah bersinggungan dengan ilmu Termodinamika . Salah satu bagian dari Ternodinamika adalah Suhu.. Suhu adalah besaran yang menyatakan derajat panas dingin suatu benda dan alat yang digunakan untuk mengukur suhu adalah thermometer. Dalam kehidupan sehari-hari masyarakat untuk mengukur suhu cenderung menggunakan indera peraba. Tetapi dengan adanya perkembangan teknologi maka diciptakanlah termometer untuk mengukur suhu dengan lebih akurat.

Untuk memudahkan dan menyetandarkan dalam penghitungan suhu maka dibuatlah skala. Anders Celcius (1701 – 1744) pada tahun 1742 dia memperkenalkan skala yang digunakan sebagai pedoman pengukuran suhu. Skala ini diberi nama sesuai dengan namanya yaitu Skala Celcius. Apabila benda didinginkan terus maka suhunya akan semakin dingin dan partikelnya akan berhenti bergerak, kondisi ini disebut kondisi nol mutlak. Skala Celcius tidak bisa menjawab masalah ini maka Lord Kelvin (1842 – 1907) menawarkan skala baru yang diberi nama Kelvin. Skala kelvin dimulai dari 273 K ketika air membeku dan 373 K ketika air mendidih. Sehingga nol mutlak sama dengan 0 K atau -273°C. Selain skala tersebut ada juga skala Reamur dan Fahrenheit. Untuk skala Reamur air membeku pada suhu 0°R dan mendidih pada suhu 80°R sedangkan pada skala Fahrenheit air membuka pada suhu 32°F dan mendidih pada suhu 212°F.Sampai sekarang kita mengenal ada empat skala penghitung suhu yang umum digunakan, diantaranya adalah Celcius, Reamur, Fahrenheit, dan Kelvin.

Mengingat bahwa penghitungan suhu terutama dalam analisa bahan sering digunakan dalam praktek dilaboratorium maka dari itu, pengetahuan tentang suhu oleh praktikan dirasa penting agar memudahkan praktikan dalam sebuah praktikum terutama yang menggunakan penghitungan suhu.

B. Tujuan

Tujuan dari praktikum ini adalah untuk mengetahui konversi satuan suhu dari berbagai skala dan mengetahui kenaikan titik didih.

II. TINJAUAN PUSTAKA

Termodinamika merupakan sains aksiomatik yang berkenaan dengan transformasi energi dari satu bentuk ke bentuk lainnya. Tetapi energi dan materi sangat berkaitan erat, sedemikian eratnya sehingga perpindahan energi akan menyebabkan perubahan tingkat keadaan materi tersebut. Jadi termodinamika menjadi terlibat dalam menjelaskan bagaimana energi saling beraksi dengan materi, dan dalam melakukan hal demikian, termodinamika itu menjadi berkaitan dengan peubah (variabel) fisis dan antarhubungan mereka. Termodinamika klasik diformalkan oleh Carnot, Joule, Kelvin, dan Celcius (Michel Saad, 1997).

Jika temperatur diukur dengan beberapa thermometer, dan jika setiap termometer menggunakan zat termometrik yang berbeda, pembacaan termometer itu kelihatannya akan identik hanya pada satu titik tetap. Ini karena dalam menera suatu termometer dianggap bahwa sifat termometriknya berubah terhadap temperatur dalam pola yang linear. Hubungan linear demikian hanya berlaku sebagai pendekatan pertama, sifat termometrik setiap zat biasanya berubah terhadap temperatur dalam karakteristik dan caranya sendiri. Oleh karena itu, temperatur yang diukur oleh termometer yang berbeda tidak dapat diharapkan benar-benar berimpit kecuali pada satu titik tetap. Temperatur termodinamik (temperatur mutlak) haruslah tak tergantung pada sifat-sifat sistem tertentu dan temperatur ini didasarkan pada hukum termodinamik kedua. Skala gas ideal menunjukkan temperatur yang berimpit dengan termodinamik (Adam Page, 1949).

Suhu didefinisikan sebagai ukuran atau derajat panas dinginnya suatu benda atau sistem. Suhu adalah ukuran energi kinetik rata-rata yang dimiliki oleh molekul-

molekul suatu benda. Sebagai contoh ketika kita memenaskan sebatang besi, besi akan memuai, begitu pula ketika zat cair. Ketika kita mendinginkan air sampai suhu di bawah nol, air tersebut berubah menjadi es. Sifat-sifat benda yang bisa berubah akibat adanya perubahan suhu disebut sifat termometrik. Dengan demikian sifat termometrik menunjukkan adanya perubahan suatu benda.

Adapun dasar daripada termometri, yaitu pengukuran suhu, adalah hukum termodinamika ke nol, yang menyatakan bahwa dua benda yang masing-masing dalam keadaan setimbang termis dengan benda yang ketiga, adalah dalam keadaan setimbang termis satu sama lain. Yang dimaksud setimbang termis ialah tidak terjadinya perubahan keadaan fisis bilamana disinggungkan atau disentuhkan atau ditempelkan satu sama lain. Dengan menyatakan kesetimbangan termis sebagai kesamaan suhu, hukum termodinamika ke nol tidak lain menyatakan bahwa dua benda yang suhunya sama dengan suhu benda ketiga, suhunya adalah sama satu sama lain, sehingga jika benda yang suhunya sama harus terbuktikan sama oleh termometer itu (Walton, 1998).

III. PELAKSANAAN PRAKTIKUM

A. Tempat dan Waktu

Praktikum Satuan Operasi I ini dilaksanakan di Laboratorium Kimia Hasil Pertanian Teknologi Pertanian Fakultas Pertanian Universitas Sriwijaya. Pada Hari

Selasa tanggal 22 Maret 2011 Pukul 13.00-14.30 WIB.

B. Alat dan Bahan

Alat yang digunakan dalam praktikum pengenalan alat adalah

Termometer, Hot Plate, Gelas ukur ,Stopwatch, Beaker glass, Sarung tangan, dan

bahan yang digunakan adalah Aquadest.


C. Cara kerja

1. Dengan volume tertentu, sampel diukur dengan menggunakan gelas ukur. Setelah itu, sampel dipindahkan ke dalam beaker glass.

2. Kemudian sampel yang telah berada di dalam Beaker glass diukur suhunya (sebagai suhu awal)

3. Aquadest tersebut dipanaskan di atas pemanas dengan waktu 5 menit, lalu ukur suhunya

4. Panaskan kembali aquadest di atas pemanas sampai 10 menit, lalu ukur suhunya

5. Ulangi percobaan dengan berbagai volume (25 ml, 50 ml, 75 ml, 100 ml) sebanyak tiga kali.

6. Analisa data berdasarkan perhitungan ketidakpastian pengukuran dalam percobaan.

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

A. Hasil

Dari Praktikum Suhu yang telah dilakukan, didapatkan hasil sabagai berikut :

KEL.

Volume (ml)

Waktu (menit)

Suhu

0C

0F

0R

0K

1

25

0

30

86

24

303

5

55

131

44

328

10

65

149

52

338

2

50

0

29

84,2

23,2

303

5

48

118,4

38,4

321

10

58

136,4

46,4

331

3

75

0

28

82,4

22,4

301

5

75

167

60

348

10

89

192,2

71,2

362

4

100

0

29

84,2

23,2

302

5

70

158

56

343

10

89

192,2

71,2

362

B. Pembahasan

Dalam Praktikum yang kedua yaitu “Suhu”, bertujuan untuk mengenal konversi beberapa skala dan kenaikan titik didih. Sebelum melakukan praktikum kita harus mengetahui tentang suhu dan beberapa istilah lain yang perlu diketahui. Suhu yaitu energi yang berpindah akibat perubahan suhu (kalor), Kalor jenis adalah panas yang dibutuhkan untuk menguapkan 1 gr air, kapasitas kalor adalah banyaknya kalor yang dibutuhkan oleh benda untuk menaikkan suhu 1 oC, panas jenis adalah panas yang diterima statu zat dibagi hasil kali massa dan selisih suhu, kalor lebur adalah kalor yang diterima suatu zat dimana massa benda dikalikan kalor lebur benda, kalor uap adalah kalor yang diterima statu zat untuk menguap dimana massa diaklikan kalor uap zat.

Praktikum yang dilakukan hanya mengenai kenaikan titik didih. Pertama – tama ambil aquadest sebanyak 75 ml atau sesuai dengan ketentuan untuk kelompok masing – masing dengan menggunakan gelas ukur, lalu masukkan kedalam beaker glass, ukur suhunya dengan menggunakan beaker glass sebagai suhu awal, lalu panaskan hotplate untuk memanaskan air, kemudian letakkan beaker glass yang telah berisi aquadest di atas hotplate selama lima menit. Setelah lima menit, ukur suhu aquadest dengan menggunakan termometer, hal yang perlu diperhatikan pada saat menggunakan termometer antara lain pegang bagian tali pada ujung termometer, dan jaga agar jangan sampai termometer tersebut menyentuh beaker glass, karena akan mempengaruhi hasil pengukuran suhu tersebut. Catat data yang telah didapat, kemudian panaskan kembali selama lima menit dan ukur suhu yang didapat seperti pada percobaan sebelumnya.

Setelah melakukan percobaan dan mendapatkan hasilnya, kita akan melakukan konversi data tersebut menjadi beberapa satuan . Sebelum melakukan konversi kita sebaiknya mengetahui jenis – jenis skala yang akan kita konversikan, yaitu derajat Celsius, Reaumur, Kelvin, Fahrenheit. Skala Celcius beku 0oC dan titik didih 100oC. Dengan demikian, terdapat 100 bagian (skala) dalam daerah antara kedu titik referensi ini. Oleh karena itu, satu derajat Celcius adalah 1/100 kali perubahan suhu antara suhu titik beku dan titik didih. Skala Kelvin, berbeda dengan dua skala yang lain, didasarkan pada suhu terendah yang mungkin, yaitu -273oC. Oleh karena itu, skala nol pada skala Kelvin sama dengan -273oC. Satu Kelvin. Biasanya,skala Kelvin disebut sebagai skala mutlak (absolut) atau skala termodinamik. Satu Kelvin inilah yang digunakan sebagai satuan SI untuk suhu.untuk mengubah satuan suhu dari skala Celcius ke skala Kelvin atau sebaliknya tentu saja sangat mudah , yaitu hanya dengan menambahkan 273 pada skala celcius. Di bawah ini adalah perbandingan skala yang perlu kita ketahui :

K = C + 273

K = Suhu pada skala Kelvin

C = Suhu pada skala Celcius

C = clip_image002 (F – 32)

F = clip_image002[1] C + 32

C = clip_image004 R

F = clip_image006 R + 32

V. KESIMPULAN

Dari hasil praktikum yang telah kita lakukan, dapat disimpulkan bahwa :

1. Suhu adalah ukuran energi kinetik rata-rata yang dimiliki oleh molekul – molekul suatu bend.

2. Alat yang digunakan untuk mengukur suhu adalah termometer

3. Skala yang biasa digunakan untuk mengukur suhu ada empat, yaitu Celcius, Reamur, Fahrenheit, dan Kelvin. Skala Celcius, Reamur, dan Fahrenheit memiliki perbandingan 5 : 4 : 9

4. Pada saat menggunakan termometer, pegang bagian tali pada ujung termometer, usahakan agar termometer tidak menyentuh bagian beaker glass karena akan mempengaruhi hasil pengukuran.

5. Sifat-sifat benda yang bisa berubah akibat adanya perubahan suhu disebut sifat termometrik.

DAFTAR PUSTAKA

http://alljabbar.wordpress.com/2008/04/07/suhu/, di akses pada tanggal 19 Maret

2011pukul 20:00 WIB

Kanginan, M. 2002. Fisika. Grafindo. Jakarta.

Saad, Michel. 1997. Termodinamika Prinsip Dan Aplikasi. Edisi Bahasa Indonesia

Jilid 1. Prenhallindo.Jakarta.

Soedojo, Peter. 1999. Fisika Dasar. Penerbit Andi.Yogyakarta.
Walton, HF. 1998. Interactive Science. Edisi ke-3. McGraw-Hill, Inc.New York.

LAPORAN PRAKTIKUM SATUAN OPERASI I KONVERSI SATUAN

Standar

1. PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Dalam kehidupan sehari – hari tentu kita selalu bersinggungan dengan kegiatan mengukur baik panjang, massa, maupun waktu. Banyak sekali kegiatan sehari hari yang menggunakan besaran dan satuan misalnya pada saat mengukur panjang tali atau jarak suatu benda ke benda lain, menimbang berat beras atau gandum, menghitung waktu tempuh dari rumah ke kampus, dan lain sebagainya.

Panjang, massa, dan waktu yang sering kita gunakan disebut besaran, sedangkan ukuran untuk menyatakan besaran disebut dengan satuan. Seperti meter untuk panjang, kilogram untuk massa dan detik untuk waktu.

Besaran adalah suatu pernyataan yang mengandung pengertian ukuran dan memiliki satuan atau hal – hal yang akan diketahui ukurannya. Menurut ada tidaknya arah, Besaran dibagi menjadi dua, yaitu Besaran Vektor dan Besaran Skalar. Besaran Vektor merupakan besaran yang mempunyai nilai dan arah, misalnya kecepatan dan berat benda. Besaran Skalar merupakan Besaran yang hanya mempunyai nilai saja, misalnya massa benda. Satuan adalah sesuatu yang digunakan untuk membandingkan ukuran suatu besaran.

Melihat dari induknya, Besaran dibagi menjadi dua yaitu besaran pokok dan besaran turunan. Besaran pokok adalah besaran yang sudah tetapkan terlebih dahulu. Didalam fisika dikenal tujuh besaran pokok yaitu panjang, massa, waktu, suhu, kuat arus, intensitas cahaya, dan jumlah zat. Sedangkan besaran turunan merupakan besaran yang diturunkan dari satu atau lebih besaran pokok. Karena besaran turunan merupakan kombinasi dari besaran pokok, maka satuan besaran turunan juga merupakan kombinasi satuan besaran pokok. Aturan untuk menentukan besaran turunan adalah sebagai berikut:

1. Jika satuan besaran turunan merupakan perkalian besaran pokok, satuan besaran turunan itu juga merupakan perkalian satuan besaran pokok.

2. Jika suatu besaran turunan itu juga merupakan pembagian besaran pokok, maka satuan besaran turunan itu juga merupakan pembagian besaran satuan besaran pokok.

Dimensi suatu besaran adalah cara besaran itu tersusun oleh besaran-besaran pokok. Analisis dimensional dapat kita gunakan untuk menetahui besaran-besaran turunan yang memiliki besaran yang sama, serta untuk menganalisis besaran atau titik suatu persamaan atau rumus.

B. Tujuan

Tujuan dari praktikum kali ini adalah:

· Untuk mengubah satuan-satuan dan fungsi persamaan dalam massa, panjang, gaya, dan lain-lain.

· Untuk menjumlahkan, mengurangi, membagikan dan mengalikan satuan.

II. TINJAUAN PUSTAKA

Konversi satuan merupakan cara untuk mengubah satuan yang ada ke satuan SI atau sebaliknya. Konversi satuan perlu dilakukan karena disetiap negara biasanya memiliki sistem satuan sendiri-sendiri. Untuk mencari kesesuaiannya diperlukan konversi satuaan. (Ari Damari, 2009)

Pengubahan satuan sering kita hadapidalam persoalan fisika. Pengubahan satuan pada dasar nya adalah mengubah nilai besaran darib satuan yg satu ke satuan yang lain. Kadang kadang besaran yang di berikan menggunakan sistem satuan yang berbeda dengan system satuan yang kita inginkan. Sebelum melakukan perhitungan kita harus menyesuaikan sistem satuan ke dalam sistem satuan yang kita kehendaki. Untuk memudahkan dalam mengubah dari awalan yang satu ke awalan yang lain, kita menggunakan tangga konversi satuan.

Penggunaan satuan yang beraneka ragam dapat menimbulkan beberapa kesulitan. Kesulitan pertama yaitu, kesulitan dalam menentukan faktor konversi apabila ingin beralih dari suatu satuan ke satuan lain. Kesulitan kedua adalah memerlukan banyak alat ukur yang sesuai dengan satuan yang digunakan. Oleh karena itu, pada tahun 1960 suatu perjanjian internasional menerapkan sistem metrik sebagai system satuan internasional (SI). Sistem metrik menggunakan meter untuk satuan panjang, kilogram untuk satuan massa, dan sekon untuk satuan waktu. (Anonim,2011)

Sistem satuan metrik memiliki keunggulan karena konversi satuan-satuannya sangat mudah yaitu berupa bilangan berpangkat n atau 10n misalnya105. (Kamajaya, 2007)

III. PELAKSANAAN PRAKTIKUM

A. Tempat dan Waktu

Praktikum berjudul Konversi Satuan, dalam praktikum Satuan Operasi dilakukan pada hari Selasa 15 Maret 2011 dan 29 Maret 2011 pukul 13.00 – 15.00 yang dilakukan di Laboratorim Kimia Hasil Pertanian, Jurusan Teknologi Pertanian Unuversitas Sriwijaya.

B. Alat dan Bahan

Alat dan bahan yang digunakan dalam praktikum pengenalan alat adalah :

Kalkulator.

C. Cara kerja

Cara kerja praktikum kali ini adalah sebagai berikut :

1. Setiap kelompok praktikan diberikan soal-soal konversi satuan oleh para asisten.

2. Praktikan diharapkan dapat mengerjakan soal-soal tersebut dengan mengetahui satuan-satuan yang telah dijelaskan oleh asisten sebelumnya.

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

A. Hasil

Satuan dan Faktor Konversi

1 mm = 1000 mikron

1 cm = 10 mm

1 kg = 1000 gr

1 lb/m2 = 0,07033 kg/cm2 = 0,068 atm

1 btu/kaki2 jam 0F = 12 btu in/kaki-2 jam 0F

1 kaki = 12 inci = 30,48 cm

1 lb = 0,453 kg

Soal:

1) 1,46 kg/m3 = …. lb/ft3

2) 0,74 gr/l = …. lb/ft3

Jawab :

1) clip_image002

clip_image004

= 115,1 lb/ft3

2) clip_image006

= clip_image008

= 0,000049803 lb/ft3

B. Pembahasan

Pada Praktikum yang ketiga yaitu “Konversi Satuan”, yang bertujuan untuk mengubah satuan-satuan dan fungsi persamaan dalam massa, panjang, gaya, dan lain-lain, dan Untuk menjumlahkan, mengurangi, membagikan dan mengalikan satuan. Sebelum melakukan praktikum ini, terlebih dahulukita harus mengetahui beberapa istilah yang berkaitan dengan Konversi satuan. Konversi satuan merupakan cara untuk mengubah satuan yang ada kedalam satuan SI atau sebaliknya. Besaran adalah suatu pernyataan yang mengandung pengertian ukuran dan memiliki satuan atau hal-hal yang akan diketahui ukurannya Satuan adalah sesuatu yang digunakan untuk menyatakan suatu ukuran besar. Satuan atau satuan ukur atau unit digunakan untuk memastikan kebenaran pengukuran atau sebagai nilai standar bagi pembanding alat ukur, takar, timbang dan perlengapannya untuk melindungi kepentingan umum. Digunakan dalam berbagai disiplin ilmu untuk mendefinisikan berbagai pengukuran, rumus dan data .

Dimensi adalah suatu yang dinyatakan secara umum dalam besaran primer. Dalam penggunaan umum, dimensi berarti parameter atau pengukuran yang dibutuhkan untuk mendefinisikan sifat-sifat suatu objek yaitu panjang, lebar, dan tinggi atau ukuran dan bentuk. Dalam matematika dan fisika, dimensi adalah parameter yang dibutuhkan untuk menggambarkan posisi dan sifat-sifat objek dalam suatu ruang. Dalam konteks khusus, satuan ukur dapat pula disebut dimensi meter atau inchi.

Dimensi mempunyai beberapa kegunaan antara lain :

1. Untuk menentukan kesetaraan dua buah besaran. Kesetaraan dua besaran dapat dilihat dari dimensi masing-masing, jika dimensinya sama maka dinyatakan kedua besaran itu setara

2. Untuk menentukan ketepatan suatu persamaan. Benar tidaknya sebuah persamaan dapat dilihat secara cepat dengan melihat dimensinya. Jika dimensi dikedua ruas sama maka persamaan tersebut benar

3. Untuk menentukan satuan besaran turunan dalam besaran dasar.

4. Untuk mengonversi satuan dari sistem cgs ke MKS atau sebaliknya.

Faktor konversi adalah angka tidak berdimensi yang merupakan ekivalensi satuan yang bersambutan. Pada operasi, penambahan dan pengurangan dimensi dari bilangan yang dioperasikan harus sama, sedangkan dalam perkalian atau pembagian tidak ada syarat dalam pengoperasiannya.

Dalam kehidupan kita terdapat 4 sistem satuan yaitu :

1. Absolute Dynamic System (cgs)

2. English Absolute System (fps)

3. Sisitem Internasional (mks)

4. Gravitational system

· British : ft, Sec, slug

· American : ft, sec, lbm, lbf

Sistem Internasional Sistem Satuan Internasional ( dalam bahasa perancis : Système Internasional d’Unitès arau SI ) adalah sistem satuan atau besaran yang paling umum digunakan. Pada awalnya sistem ini merupakan sistem MKS, yaitu panjang (meter), massa (kiligram), dan waktu (detik/sekon). Sistem SI ini secara resmi digunakan disemua negara di dunia kecuali Amerika Serikat (yang menggunakan Sistem Imperial), Liberia, dan Myanmar.

Dalam sistem SI terdapat 7 satuan dasar/pokok SI dan 2 satuan tanpa dimensi. Selain itu, dalam sistem SI terdapat standar awalan – awalan (prefix) yang dapat digunakan untuk penggandaan atau menurunkan satuan – satuan lainnya.

Dalam Praktikum ini, kita akan diberikan nilai konversi dari beberapa satuan. Misalnya 1 lb/m2 = 0,07033 kg/cm2 = 0,068 atm. Kemudian Asisten akan memberikan kita soal yang harus dijawab dengan berpedoman pada nilai konversi yang telah diberikan.

V. KESIMPULAN

Dari hasil praktikum yang telah kita lakukan, dapat disimpulkan bahwa :

  1. Konversi satuan merupakan cara untuk mengubah satuan yang ada ke satuan SI atau sebaliknya.
  2. Satuan adalah sesuatu yang digunakan untuk menyatakan ukuran besar.
  3. Besaran adalah suatu pernyataan yang mengandung pengertian ukuran dan memiliki satuan atau hal – hal yang akan diketahui ukurannya. Besaran dibagi menjadi dua yaitu besaran pokok dan besaran turunan.
  4. Dimensi adalah satuan yang dinyatakan secara umum dalam besaran primer.
  5. Faktor konversi adalah angka tak berdimensi yang merupakan ekivalensi satuan yang bersambutan.
  6. Terdapat empat sistem satuan yang diakui, yaitu absolute Dynamic system, English absolute system , Sistem Internasional, dan gravitational system.

DAFTAR PUSTAKA

Anonim.www.google.com diakses tanggal 3 April 2011

Anonim.www,wikipedia.org diakses tanggal 3 April 2011

Fried.H.George.Ph.D.2005.Fisika Universitas.Erlangga : Jakarta.

Kanginan , M. 2002 . Fisika. Grafindo. Jakarta.

Setiabudidaya, Dedi. 2008. Modul Praktikum Fisika Dasar I. Laboratorium Dasar

Bersama. Unsri Indralaya.

Soedojo, peter. 1999. Fisika Dasar. Penerbit Andi : Yogyakarta

LAPORAN PRAKTIKUM SATUAN OPERASI I PENGENALAN ALAT

Standar

I. PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Laboratorium adalah suatu tempat dimana mahasiswa atau Praktikan, dosen, dan peneliti melakukan percobaan. Bekerja di laboratorium kimia tak akan lepas dari berbagai kemungkinan terjadinya bahaya dari berbagai jenis bahan kimia baik yang bersifat sangat berbahaya maupun yang bersifat berbahaya. Selain itu, peralatan yang ada di dalam Laboratorium juga dapat mengakibatkan bahaya yang tak jarang berisiko tinggi bagi Praktikan yang sedang melakukan praktikum jika tidak mengetahui cara dan prosedur penggunaan alat yang akan digunakan. Setiap percobaan kita selalu menggunakan peralatan yang berbeda atau meskipun sama tapi ukurannya berbeda. Misalnya untuk mengambil larutan dalam jumlah sedikit kita harus menggunakan gelas ukur bukan beaker glass ataupun erlenmeyer karena ketelitian gelas ukur yang tinggi dan memang untuk mengukur zat cair serta mudah digunakan, sedangkan beaker glass hanya sebagai wadah atu tempat larutan atau sampel, meskipun terdapat skala pada beaker glass namun skala ini tidak akurat dan tidak boleh digunakan untuk mengukur sampel yang sangat sensituf. Begitu pula dengan prosedur percobaan yang lain, kita harus bisa menyesuaikan dan menggunakan peralatan untuk praktikum tersebut.

Oleh karena itu, kita harus mengetahui bagaimana cara menggunakan alat – alat tersebut dengan tepat sehingga tidak akan mengganggu kelancaran praktikum dan tidak terjadi kecelakaan akibat dari kesalahan praktikan. Selain itu, pengenalan alat ini sangat penting demi kelancaran praktikum kita selanjutnya. Dalam sebuah praktikum, tentu saja praktikan tidak dapat secara langsung menggunakan alat-alat yang akan digunakan dalam praktikum tersebut tanpa mempunyai pengetahuan dan kemampuan yang cukup untuk menggunakannya.

Mengingat betapa pentingnya pengetahuan dan prosedur penggunaan peralatan laboratorium, meka praktikum pengenalan alat laboratorium dirasa penting agar setiap praktikum yang akan dilaksanakan dapat berjalan sebagaimana mestinya tanpa terjadi hal – hal yang tidak di inginkan.

B. Tujuan

Praktikan dapat mengetahui fungsi dan prosedur penggunaan alat-alat yang digunakan dalam laboratorium khususnya pada praktikum Satuan Operasi.

II. TINJAUAN PUSTAKA

Dalam sebuah praktikum, praktikan diwajibkan mengenal dan memahami cara kerja serta fungsi dari alat-alat yang ada dilaboratorium. Selain untuk menghindari kecelakaan dan bahaya, dengan memahami cara kerja dan fungsi dari masing-masing alat, praktikan dapat melaksanakan praktikum dengan sempurna (Walton, 1998).

Penanganan bahan sebelum melakukan praktikum sangat mempengaruhi hasil praktikum. Bahan yang mudah menguap diletakkan didalam wadah, bahan kimia yang dapat menimbulkan bahaya sebaiknya disimpan dalam sebuah lemari asam (Neilands, 1990).

Ada beberapa faktor yang sangat penting dalam mengetahui alat-alat yang ada dilaboratorium, yaitu masalah alat-alat yang digunakan dan adanya ketelitian praktikan dalam melakukan pengukuran dan perhitungan (Ibnu, 1976).

Suatu laboratorium harus merupakan tempat yang aman bagi para pekerja atau pemakainya yaitu para praktikan. Aman terhadap kemungkinan kecelakaan fatal maupun sakit atau gangguan kesehatan lainnya. Hanya didalam laboratorium yang aman, bebas dari rasa khawatir akan kecelakaan, dan keracunan seseorang dapat bekerja dengan aman, produktif, dan efesien (Khasani, 1990).

Pekerjaan dalam laboratorium biasanya sering menggunakan beberapa alat gelas. Penggunaan alat ini dengan tepat penting untuk diketahui agar pekerjaan tersebut dapat berjalan dengan baik. Keadaan yang aman dalam suatu laboratorium dapat kita ciptakan apabila ada kemauan dari para pekerja, pengguna, maupun kelompok pekerja laboratorium untuk menjaga dan melindungi diri, diperlukan kesadaran bahwa kecelakaan yang terjadi dapat berakibat pada dirinya sendiri maupun orang lain disekitarnya. Tujuan dari praktikum pengenalan alat ini adalah untuk mengenal beberapa macam alat gelas yang sering digunakan dalam laboratorium dan penggunaanya (Ginting, 2000).

III. PELAKSANAAN PRAKTIKUM

A. Tempat dan Waktu

Praktikum Satuan Operasi I ini dilaksanakan di Laboratorium Kimia Hasil Pertanian Jurusan Teknologi Pertanian Fakultas Pertanian Universitas Sriwijaya.

Pada Hari Selasa tanggal 15 Maret 2011 Pukul 13.00 – 14.30 WIB.

B. Alat dan Bahan

Alat yang digunakan dalam praktikum pengenalan alat adalah Gelas ukur, Pipet ukur, Pipet gondok, Pipet tetes, Ball pipet, Termometer, Beaker glass, Viskometer ostwalt, Piknometer, Viscotester, Neraca analitik, Jangka sorong, Mikrometer sekrup.

C. Cara kerja

1. Nama- nama alat laboratorium beserta fungsinya dikenalkan dan dijelaskan oleh Asisten.

2. Nama – nama alat praktikum beserta fungsinya dicatat dan digambar oleh Praktikan.

3. Alat – alat praktikum yang telah dijelaskan Asisten dijelaskan kembali Salah satu Praktikan ditunjuk maju kedepan.

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

A. Hasil

Dari Praktikum Pengenalan Alat yang telah dilakukan, didapatkan hasil sabagai berikut :

No

Nama Alat

Fungsi Alat

Gambar

1

Gelas ukur

Untuk mengukur volume larutan tidak memerlukan tingkat ketelitian yang tinggi dalam jumlah tertentu.

clip_image002

2

Pipet ukur

Untuk mengukur volume larutan dengan tingkat ketelitian yang tinggi (0,01 mm).

clip_image004

3

Pipet gondok

Untuk mengukur volume larutan sesuai dengan ketentuan yang ada pada pipet.

clip_image006

4

Pipet tetes

Digunakan untuk memindahkan beberapa tetes zat cair.

clip_image008

5

Ball pipet

Sebagai pasangan antara pipet ukur dan pipet gondok yang disertai dengan tanda untuk menghisap(↑) dan untuk mengeluarkan larutan (↓).

clip_image010

6

Termometer

Untuk mengukur suhu (temperatur) ataupun perubahan suhu.

clip_image012

7

Beaker glass

Untuk menampung bahan sementara, selain itu juga sebagai tempat memanaskan larutan.

clip_image014

8

Viskometer ostwalt

Untuk mengetahui viskositas atau kekentalan suatu larutan.

clip_image016

9

Piknometer

Untuk mengukur berat jenis sampel atau cairan.

clip_image018

10

Viscotester

Untuk mengukur viskositas atau kekentalan suatu larutan yang lebih kental.

clip_image020

11

Neraca analitik

Untuk menimbang sampel atau padatan kimia.

clip_image022

12

Jangka sorong

Untuk mengukur ketebalan suatu benda.

clip_image024

13

Mikrometer sekrup

Untuk mengukur ketebalan suatu benda.

clip_image026

B. Pembahasan

Dalam Praktikum pertama yaitu “Pengenalan Alat” kita akan membahas tentang alat-alat yang ada dilaboratorium. Diantaranya Gelas ukur, Pipet ukur, Pipet gondok, Pipet tetes, Ball pipet, Termometer, Beaker glass, Viskometer ostwalt, Piknometer, Viscotester, Neraca analitik, Jangka sorong, dan Mikrometer sekrup.

Gelas ukur adalah alat yang terbuat dari bahan gelas dan memiliki berbagai ukuran, mulai dari 10 mL sampai 2 L. Berbentuk tabung, hampir sama seperti tabung reaksi, tapi memiliki alas yang luas sehingga dapat ditegakkan. Kegunaannya

untuk mengukur volume suatu larutan dengan ketelitian yang tinggi yaitu hingga 1 ml . Alat ini tidak boleh digunakan untuk mengukur larutan atau sampel yang panas.

Pipet tetes adalah alat berbentuk tabung dengan diameter yang sangat kecil memiliki ujung yang agak runcing, sedangkan pada ujung lainnya terdapat sejenis alat penghisap yang terbuat dari karet. Digunakan untuk memindahkan atau menghisap larutan atau sampel dari beaker glass atau botol sampel kedalam gelas ukur. Selain pipet tetes masih terdapat 2 jenis pipet yang lain yang memiliki fungsi yang sama yaitu untuk memindahkan sampel berupa larutan, namun masing – masing pipet memiliki ukuran dan ketelitian yang berbeda. Diantaranya adalah Pipet ukur, berupa pipa kurus dengan skala di sepanjang dindingnya. Bergunakan untuk mengukur larutan dengan tingkat ketelitian yang hingga 0,01 mm. Pipet gondok, Alat ini terbuat dari gelas dengan bagian tengahnya membesar dan ujungnya meruncing. Dipakai untuk mengambil larutan dengan volume tertentu dengan tepat . Alat yang digunakan sebagai penghisap untuk pipet ukur dan pipet gondok adalah Ball Pipet. Ball Pipet adalah alat berbentuk bulat seperti bola dan terbuat dari karet, pada bagian bawahnya terdapat lubang untuk memasukkan pipet yang akan digunakan, dan pada bagian samping terdapat sejenis keran yang diberi tanda berupa (↑) dan (↓). Pada tanda (↑) berfungsi untuk menghisap larutan, sedangkan tanda(↓) berfungsi untuk mengeluarkan larutan.

Termometer adalah alat berbentuk tabung pipih, mirip seperti Pipet Tetes, tetapi dalam Termometer berisi cairan berupa Air Raksa atau Alkohol yang tidak dapat dikeluarkan. Ujung yang satu dan yang lainnya berbentuk tumpul, Termometer digunakan untuk mengukur suhu (temperatur), ataupun perubahan suhu. Ada beberapa jenis termometer menurut cara kerjanya, seperti Termometer air raksa, Termokopel, Termometer infra merah, Termometer Galileo, Termistor, Termometer bimetal mekanik, Sensor suhu bandgap silicon, Merkuri temori, dan Termometer alkohol. Thermometer yang paling sering digunakan adalah thermometer Air Raksa.

Beaker Glass merupakan berbentuk seperti gelas memiliki mulut pada bagian atas untuk mengalirnya larutan, memiliki diameter yang lebih besar dari semua alat ukur . Terbuat dari kaca borosilikat yang tahan terhadap panas hingga suhu 200 °C. Ukuran alat ini ada yang 50 mL, 100 mL dan 200 L. Meskipun memiliki ukuran dan skala, alat ini tidak digunakan sebagai alat ukur, melainkan sebagai wadah sampel yang akan kita gunaakan dalam sebuah praktikum.

Viskometer ostwalt adalah alat yang digunakan untuk mengetahui viskositas atau kekentalan suatu larutan. Prinsip kerja dari viskometer ostwalt yaitu dengan cara mengukur waktu yang dibutuhkan bagi cairan tersebut untuk melewati 2 tanda ketika cairan tersebut mengalir karena gravitasi melalui viskometer ostwalt. Waktu yang dibutuhkan oleh cairan untuk mengalir dibandingkan dengan waktu yang dibutuhkan bagi suatu zat yang viskositasnya sudah diketahui (biasanya air) untuk lewat 2 tanda tersebut.

Piknometer adalah pengukuran perangkat untuk mengukur densitas dari cairan. Terdiri dari kaca botol dengan leher dan punched pas stopper.

Neraca analitik adalah alat yang digunakan untuk mengukur massa suatu zat. Neraca ini memiliki ketelitian yang lebih akurat hingga 0,0001g. Cara menggunakan neraca analitik, pertama-tama hidupkan neraca tersebut dengan menekan tombol on, kemudian skala digital di nol – kan terlebih dulu. Lalu letakkan wadah yang digunakan, kemudian nol – kan kembali skalanya, masukkan zat yang akan ditimbang pada wadah tadi. Baca nilai yang tertera pada layar monitor neraca.

Jangka sorong adalah alat ukur yang ketelitiannya dapat mencapai seperseratus milimeter. Terdiri dari dua bagian, yaitu rahang tetap dan rahang sorong. Jangka sorong digunakan untuk mengukur panjang benda atau diameter benda yang berongga.

Mikrometer memiliki ketelitian sepuluh kali lebih teliti daripada jangka sorong. Ketelitiannya sampai 0,01 mm. Mikrometer terdiri dari poros tetap, poros geser / putar, skala utama, skala nonius, pemutar, pengunci. Mikrometer sekrup biasa digunakan untuk mengukur ketebalan suatu benda. Misalnya tebal kertas. Selain mengukur ketebalan kertas, mikrometer sekrup digunakan untuk mengukur diameter kawat yang kecil.

I. KESIMPULAN

Dari hasil praktikum yang telah kita lakukan, dapat disimpulkan bahwa :

1. Alat – alat gelas mempunyai fungsinya masing – masing dalam praktikum kimia sehingga diperlukan Pengenalan terhadap alat-alat yang akan digunakan dalam praktikum tersebut.

2. Diperlukan alat yang tepat dalam melakukan suatu praktikum, karena setiap alat memiliki tingkat ketelitian yang berbeda.

3. Kesalahan dalam penggunaan alat akan sangat mempengaruhi hasil praktikum.

4. Gelas Ukur memiliki ketelitian hingga 1 ml.

5. Pipet ukur memiliki ketelitian hingga 0,01 ml.

6. Penguasaan penggunaan alat akan sangat membantu dalam pelaksanaan praktikum selanjutnya.

 

DAFTAR PUSTAKA

Ginting. 2000. Penuntun Praktikum Kimia Dasar.Palembang : UNSRI.

Ibnu. 1976. Analisa Kimia Kuantitatif. Jakarta : Erlangga.

Khasani. 1990. Prosedur alat-alat Kimia.Yogyakarta : liberty.

Moechtar. 1990. Kimia Untuk SMA Kelas XI. Bogor : Regina.

Mored. 1993. Dasar-dasar Kimia.Jakarta : Universitas Indonesia.

Neilands. 1990. Analisa Kimia.Jakarta : Erlangga.

Syukri, S. 1999. “Kimia Dasar” .Bandung : ITB.

Walton. 1998. Kamus Istilah Kimia Analitik Indonesia. Pusat Pembinaan

dan Pengembangan bahasa, Departemen pendidikan dan kebudayaan.